Skip to content

Victor Montagliani: Perjalanan Panjang Penuh Kontroversi Menuju Puncak FIFA

Victor Montagliani mungkin tidak setenar Gianni Infantino atau beberapa nama besar di sepak bola dunia, tetapi pengaruhnya terhadap masa depan olahraga ini sangat besar. Pria kelahiran East Vancouver ini dikenal sebagai presiden Concacaf—konfederasi sepak bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia—dan digadang-gadang sebagai calon kuat presiden FIFA di masa depan. Namun, di balik kesuksesannya membawa Piala Dunia 2026 ke Amerika Utara, ada serangkaian kontroversi yang tak bisa diabaikan. Artikel ini akan mengulas perjalanan karier Victor Montagliani, mulai dari anak imigran hingga menjadi salah satu tokoh paling berkuasa di sepak bola, serta sisi gelap yang mewarnai langkahnya.

Victor Montagliani

Awal Mula dari East Vancouver

Vittorio Montagliani, atau yang lebih dikenal dengan Victor Montagliani, lahir pada tahun 1960 di kawasan East Vancouver. Keluarganya memiliki akar kuat di komunitas Italia. Sang ayah mendirikan Federasi Olahraga Italia Kanada dan menjadi presiden Columbus FC, klub lokal yang menjadi tempat pertama Montagliani menekuni sepak bola. Ia bahkan sempat masuk tim nasional futsal Kanada sebelum cedera pergelangan kaki mengakhiri karier kompetitifnya.

Setelah lulus dari universitas dengan gelar ilmu politik, Montagliani menguasai empat bahasa: Inggris, Italia, Prancis, dan Spanyol. Pekerjaan pertamanya cukup mengejutkan—ia menjadi pramugara. “Dia mungkin akan membunuhku karena mengatakan ini,” ujar seorang temannya dalam sebuah wawancara. Setelah itu, ia beralih ke dunia asuransi dan manajemen risiko.

Lompatan ke Panggung Sepak Bola Nasional

Pada tahun 2002, Montagliani bergabung dengan dewan Vancouver Metro Soccer League. Dua tahun kemudian, ia sudah menjadi presiden BC Soccer, badan pengatur sepak bola di British Columbia. Di bawah kepemimpinannya, pendapatan organisasi nirlaba itu meroket. Ia juga duduk di dewan Canada Soccer, federasi sepak bola nasional Kanada. Pada 2012, Montagliani terpilih sebagai presiden Canada Soccer.

Saat itulah ia berada di Zurich pada 27 Mei 2015, ketika sebuah panggilan telepon pagi buta mengubah segalanya. Di ujung sambungan adalah Sunil Gulati, presiden Federasi Sepak Bola AS, yang menyuruhnya menyalakan televisi. Otoritas Swiss sedang menggerebek Hotel Baur-Au-Lac dan menangkap sejumlah pejabat sepak bola atas tuduhan penipuan dan pemerasan. Salah satu yang ditangkap adalah Jefferey Webb, presiden Concacaf. Kekacauan di Concacaf begitu dalam hingga pengganti Webb, Alfredo Hawit, hanya bertahan enam bulan sebelum ia sendiri ditangkap.

Victor Montagliani Memimpin Concacaf di Tengah Krisis

Montagliani ditunjuk memimpin komite sementara Concacaf selama satu tahun untuk memulihkan organisasi yang porak-poranda. Pada 2016, ia mencalonkan diri sebagai presiden dan menang, menjadikannya orang non-Karibia pertama yang memegang jabatan itu sejak 1969. Dalam kampanye, ia mengunjungi seluruh 41 negara anggota dengan biaya sendiri. “Saya pergi ke mana saja, dari Amerika Serikat hingga Bonaire, pulau kecil di dekat Venezuela,” katanya kepada BC Business. Jabatan ini juga membuatnya otomatis menjadi salah satu dari delapan wakil presiden FIFA yang sangat berpengaruh.

Kontroversi yang Tak Pernah Jauh

Meski kini dikelilingi tokoh seperti pelatih Brasil Carlo Ancelotti (yang istrinya berasal dari Vancouver) hingga legenda seperti Pelé dan Maradona (yang memanggilnya “Papi”), jejak kontroversi Montagliani tetap membayangi. Salah satu kasus paling serius adalah skandal Bob Birarda, pelatih senior Vancouver Whitecaps dan tim U-20 putri Kanada yang akhirnya dipenjara karena kekerasan seksual terhadap pemain selama puluhan tahun.

Skandal Birarda: Tuduhan Penutupan Kasus

Pada 2008, pemain melaporkan kekhawatiran tentang Birarda kepada Vancouver Whitecaps dan Canada Soccer. Beberapa minggu sebelum Piala Dunia U-20, setelah investigasi singkat oleh pengacara lokal, Canada Soccer mengumumkan perpisahan dengan Birarda dengan “harapan terbaik”. Dalam sebuah rapat yang dipimpin Montagliani selaku wakil presiden Canada Soccer, pemain diberi tahu bahwa kepergian Birarda karena alasan kesehatan—tanpa menyebut tuduhan serius atau hasil investigasi. Birarda terus melatih perempuan dan anak perempuan selama satu dekade berikutnya.

Seorang mantan pemain kepada Guardian pada 2023 menuduh Montagliani dan Sekretaris Jenderal Canada Soccer Peter Montopoli “menutupi predator seksual”. Laporan McLaren tahun 2022, investigasi senilai 125 halaman yang didanai Canada Soccer, mengonfirmasi bahwa dalam catatan rapat tidak ada pengakuan atas pelecehan yang dilakukan Birarda. Montagliani membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa tuduhan ditangani dengan serius.

Kesepakatan Bisnis yang Dipertanyakan

Sebagai presiden Canada Soccer, Montagliani menjadi arsitek Canada Soccer Business (CSB), perusahaan swasta yang mengelola hak media dan pemasaran federasi. Pemilik CSB juga memiliki Canadian Premier League dan layanan streaming OneSoccer. Kontrak ini memberi CSB hak eksklusif hingga 2037, sementara Canada Soccer hanya menerima $3 juta pada 2019 dengan kenaikan tahunan sekitar $500.000. Kesepakatan ini menuai kritik karena dinilai berat sebelah dan memicu perselisihan dengan pemain timnas putra dan putri. Baru pada Februari 2025, kontrak tersebut direnegosiasi dengan nilai “lebih dari $100 juta” selama 12 tahun, menunjukkan bahwa dana sebenarnya ada—namun tidak mengalir untuk kepentingan sepak bola Kanada secara luas.

Dukungan untuk Saudi dan Isu Sportswashing

Di bawah kepemimpinan Montagliani di Concacaf, kemitraan dengan entitas Saudi Arabia seperti Public Investment Fund (pemilik mayoritas Newcastle United) dan perusahaan seperti Riyadh Air dan Aramco menuai protes. Human Rights Watch mengecamnya sebagai upaya sportswashing untuk menutupi pelanggaran HAM di Saudi. Concacaf membela dengan menyebut sponsor tersebut memiliki rekam jejak di olahraga global dan akan mendanai program sepak bola akar rumput di Amerika Tengah dan Karibia.

Jejaring Kekuasaan yang Erat

Montagliani dikenal loyal kepada orang-orang terdekatnya. Mantan koleganya di Canada Soccer seperti Nick Bontis dan Peter Montopoli kini duduk di posisi penting Concacaf atau panitia Piala Dunia 2026. Bruno De Vita, pengacara kenamaan asal East Vancouver, menjadi wakil ketua Kamar Investigasi Komite Etik FIFA sejak 2016—sebuah posisi yang menurut aturan FIFA harus mundur jika menangani kasus dari negara asalnya.

Dalam surat-menyurat dengan mantan direktur Canada Soccer yang diungkap Guardian, Montagliani menunjukkan sikap keras terhadap kritik internal. Ia menegaskan bahwa urusan bisnis federasi harus dijaga kerahasiaannya. Dalam wawancara dengan Guardian, ia berujar, “Saat Anda memerintah dan menjalankan organisasi, akan ada orang yang mengkritik Anda—itu bagian dari pekerjaan.”

Piala Dunia 2026 dan Ambisi ke Kursi FIFA

Montagliani adalah arsitek utama keberhasilan tuan rumah bersama Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko untuk Piala Dunia 2026. Saat masih menjabat wakil presiden Canada Soccer pada 2010, ia bertemu dengan Walter Sieber, administrator Olimpiade Kanada, yang menyarankan agar Kanada mengajukan tawaran. Montagliani langsung membulatkan tekad. Ia bahkan meyakinkan Sunil Gulati untuk bergabung dalam tawaran bersama setelah AS gagal dalam dua tawaran sebelumnya. “Mereka tidak peduli dengan stadion atau uang. Mereka peduli bagaimana Anda membuat mereka merasa. Dan mereka membencimu, kawan,” katanya blak-blakan kepada Gulati.

Vancouver sempat keluar dari tawaran awal karena pemerintah British Columbia khawatir akan biaya, tetapi ketika Montreal mundur pada 2021, Vancouver kembali masuk. Montagliani menyambut Piala Dunia 2026 sebagai momen besar.

Ia terpilih kembali sebagai presiden Concacaf pada 2023 dengan masa jabatan hingga 2027. Gianni Infantino bisa menjalani satu periode lagi sebagai presiden FIFA mulai 2027. Montagliani kemungkinan tidak akan menantang Infantino, tetapi ia memiliki sejarah tidak mendukung petahana—ia menolak mendukung Sepp Blatter setelah skandal 2015. Dalam wawancara dengan Guardian, ia tidak menutup kemungkinan mencalonkan diri pada 2031. “Masa depan adalah masa depan, apa pun itu,” ujarnya.

Kesimpulan

Victor Montagliani adalah figur yang kompleks: seorang pemimpin visioner yang sukses membawa Piala Dunia ke Amerika Utara dan memulihkan Concacaf dari kehancuran, namun juga seorang tokoh yang terus dibayangi kontroversi, mulai dari penanganan kasus pelecehan hingga kesepakatan bisnis yang merugikan. Dengan Piala Dunia 2026 yang akan digelar, Montagliani berada di posisi yang tepat untuk semakin mengokohkan pengaruhnya. Pertanyaan besarnya adalah: apakah ia akan menggunakan momentum ini untuk melangkah ke kursi tertinggi FIFA, atau justru kontroversi lama akan menghambat langkahnya? Hanya waktu yang bisa menjawab.