Sam Parkin, pakar BBC Final Score, baru saja membagikan pandangannya tentang sejumlah klub EFL setelah tiga pekan pertama musim 2025-2026. Salah satu sorotan utamanya adalah Charlton Athletic yang tampil sempurna dengan tiga kemenangan beruntun. Apakah performa ini cukup untuk membuktikan bahwa the Addicks siap bersaing di papan atas Championship?
Hampir seluruh tim telah memainkan tiga laga perdana musim ini. Dari sanalah Parkin menarik kesimpulan awal, baik untuk tim yang sedang terbang tinggi maupun yang masih terpuruk di dasar klasemen. Beberapa klub menarik perhatian karena start impresif, sementara yang lain justru membuat pendukungnya khawatir.

Charlton Athletic: Start Sempurna di EFL Tanpa Euforia Berlebih
Charlton finis di peringkat ke-19 Championship musim 2025-2026 setelah promosi dari League One pada musim sebelumnya. Namun, tiga kemenangan beruntun di awal musim ini memunculkan pertanyaan apakah the Addicks siap melangkah lebih jauh. Parkin menilai tidak ada pihak, termasuk manajer Nathan Jones, yang akan terbawa euforia.
Menurut Parkin, musim pertama setelah promosi selalu tentang bertahan di divisi dan membangun pertahanan yang solid. Mayoritas kemenangan Charlton musim lalu diraih dengan margin tipis, dan pola itu masih terlihat pada sebagian laga awal musim ini. Tawaran finis di papan tengah pun pasti akan disambut baik oleh para pendukung.
Namun, ada perubahan yang cukup jelas dalam cara Charlton bermain musim ini. Sebelumnya mereka memakai sistem wing-back, kini mereka lebih sering tampil dengan winger murni yang membuat permainan lebih menyerang. Menariknya lagi, strategi rekrutmen musim panas ini berbeda dari musim lalu ketika mereka banyak mendatangkan pemain dari League One.
Kali ini Charlton lebih agresif mendatangkan pemain berpengalaman di level Championship. Karlan Grant, yang mencetak gol pada laga terakhir, dan Nathaniel Chalobah menjadi dua contoh rekrutan anyar yang diharapkan memberikan dampak langsung. Parkin menilai perbedaan dalam set-up dan gaya bermain ini cukup signifikan untuk diperhatikan.
Swansea City: Gaya Menawan di Usia Dini Musim
Swansea City juga menuai pujian dari Parkin setelah meraih tujuh poin dari tiga pertandingan pembuka. Kemenangan telak 3-0 atas Derby County pada Sabtu lalu semakin menegaskan performa impresif mereka. Padahal, banyak pihak menganggap Swansea sebagai tim yang agak tidak terduga menjelang musim ini.
Meski Victor Matos tetap bertahan sebagai manajer, Swansea menjalani musim panas yang menarik dalam hal perekrutan pemain. Mereka mendatangkan bek Celtic, Stephen Welsh, serta winger asal Ghana, Joseph Opoku, yang langsung mencetak gol pembuka saat melawan Derby. Parkin menilai langkah ini menunjukkan pola pikir maju dalam membangun skuad.
Yang paling khas dari Swansea sebenarnya bukan sekadar hasil, melainkan cara mereka bermain. Gaya sepak bola menawan atau stylish seolah sudah menjadi identitas yang melekat, apa pun komposisi pemainnya. Namun, Parkin mengingatkan bahwa konsistensi masih menjadi tanda tanya besar bagi tim asal Wales ini.
Menurut Parkin, Swansea mungkin belum cukup konsisten untuk bersaing di papan atas klasemen dalam jangka panjang. Akan tetapi, dengan format play-off yang kini melibatkan enam tim, peluang mereka untuk merebut satu tempat bukan mustahil. Di sisi lain, Derby yang belum meraih kemenangan menjadi lawan yang bisa dimanfaatkan, apalagi mereka sedang dilanda cedera dan frustrasi akibat gagalnya proses takeover.
Burnley: Menguji Kesabaran di Bawah Nicky Hayen
Burnley memulai musim ini dengan keputusan besar melepas Scott Parker, manajer yang membawa mereka juara Championship pada musim sebelumnya. Posisinya kini ditempati Nicky Hayen, mantan pelatih Genk. Namun, hasil awal tidak berpihak pada Burnley karena mereka belum meraih satu pun kemenangan di liga.
Parkin memahami situasi ini sebagai proses aklimatisasi yang lazim dialami tim yang baru terdegradasi. Sebagian pemain di ruang ganti mungkin masih merasa tidak seharusnya bermain di divisi kedua. Selain itu, skuad yang akan ditangani Hayen sepenuhnya juga masih belum final karena bursa transfer belum ditutup.
Secara kualitas individu, Burnley sebenarnya tetap kompetitif berkat pemain-pemain yang bertahan. Masalahnya, kohesi tim membutuhkan waktu dengan hadirnya manajer baru. Parkin juga menyoroti kurangnya daya gedor yang terlihat sejauh ini.
Dibandingkan West Ham atau Wolves yang jelas punya ketajaman di lini depan, Burnley belum memperlihatkan hal serupa. Bahkan Parkin tidak melihat cukup banyak nama yang bisa diandalkan untuk menghasilkan gol secara konsisten. Meski begitu, kekalahan dari Norwich tidak dianggap sebagai aib karena Norwich diprediksi akan menjadi kandidat kuat papan atas musim ini.
Sheffield Wednesday: Kemenangan 7-2 Menandai Era Baru
Sheffield Wednesday akhirnya bernapas lega setelah kepemilikan baru resmi mengambil alih klub pada musim panas ini. Proses yang berlangsung lama dan penuh perjuangan itu kini membawa suasana segar. Buktinya, di laga kandang perdana, the Owls membantai Bromley dengan skor 7-2 di depan lebih dari 30.000 penonton.
Parkin memuji kesetiaan para pendukung yang tidak pernah goyah meski berada di bawah kepemilikan yang sangat sulit selama beberapa tahun terakhir. Kini mereka kembali memiliki klub untuk didukung dan dinikmati, meskipun tim masih bermain di League One. Kehadiran puluhan ribu penonton di setiap laga kandang akan menjadi kekuatan tersendiri.
Sebelumnya, Sheffield Wednesday sebenarnya sudah tampil baik saat menjamu Bradford di laga perdana kandang, terutama di 45 menit pertama, tetapi gagal mencetak gol. Pada laga melawan Bromley, gol-gol cepat di babak pertama memberikan kepercayaan diri yang luar biasa. Tim ini juga memiliki sejumlah pemain muda yang menarik untuk disaksikan.
Ukuran klub yang besar membuat para pemain tertarik bergabung dan menjadi bagian dari perjalanan ini. Bermain di depan stadion yang penuh setiap pekan adalah daya tarik yang tidak dimiliki banyak klub League One. Parkin mengaku masih memperkirakan tim ini membutuhkan waktu untuk benar-benar kuat, tapi kemenangan telak ini jelas memberi manfaat besar.
Salford City: Investasi Besar, Hasil Minim di Tiga Laga Awal
Salford City menjadi salah satu tim yang paling mengecewakan di awal musim 2025-2026. Setelah finis kedelapan di League Two musim 2024-2025 dan kalah di final play-off pada musim berikutnya, mereka memecat Karl Robinson. Penggantinya, Peter Cklamovski, justru kehilangan tiga laga perdana secara beruntun.
Dari sisi rekrutmen, Salford sebenarnya tampak serius dengan mendatangkan Luke Molyneux, pemain serang terbaik Doncaster dalam beberapa musim terakhir, serta striker Macaulay Langstaff dari Millwall. Langstaff mungkin kurang produktif di Millwall, tetapi kualitasnya dinilai masih di atas rata-rata League Two. Kedatangan dua nama ini membuat banyak orang optimistis terhadap ketajaman lini depan Salford.
Sayangnya, ekspektasi itu belum terwujud di lapangan pada pekan-pekan awal. Parkin meyakini pemilik klub pasti mulai menggaruk-garuk kepala karena anggaran mereka kembali sangat kompetitif. Apalagi dengan status finalis play-off musim lalu, wajar jika publik mengharapkan Salford berada di sekitar papan atas.
Parkin tidak meragukan bahwa performa Salford akan membaik seiring waktu. Hanya saja, tekanan memang selalu lebih besar di Salford dibanding klub League Two lainnya. Ini tidak lepas dari besarnya sumber daya yang dimiliki dan nama-nama besar yang terlibat di balik klub.
Pekan-pekan awal musim selalu penuh kejutan dan belum menjadi patokan mutlak. Charlton memanfaatkan start sempurna tanpa berlebihan, Swansea tampil stylish dengan tujuh poin, Sheffield Wednesday menikmati era baru, sementara Burnley dan Salford masih mencari ritme. Jalan musim masih sangat panjang, dan bursa transfer yang belum tertutup bisa kembali mengubah wajah kompetisi.
Sam Parkin berbicara kepada BBC Sport England’s Tim Durrans, dan pandangannya ini akan tetap menarik untuk diikuti dalam beberapa pekan ke depan.
