Graham Alexander resmi kembali ke Preston North End, kali ini bukan sebagai pemain melainkan sebagai pelatih kepala baru. Pria berusia 54 tahun itu meninggalkan Bradford City—klub yang tengah memimpin League One—untuk menggantikan Paul Heckingbottom di Deepdale pada Senin. Ia mengaku kembalinya ke klub yang pernah ia bela selama dua periode itu terasa begitu “surreal”.
Penunjukan ini menjadi momen penting bagi Preston yang saat ini terpuruk di peringkat kedua dari bawah Championship, dengan enam kekalahan dari delapan pertandingan liga pertama mereka. Alexander, yang belum pernah menangani klub di kompetisi Championship, dituntut segera membalikkan keadaan. Laga perdana sudah menantinya setelah jeda internasional, dan tekanan untuk mendongkrak posisi tim sudah terasa sejak hari pertama ia menandatangani kontrak.

Graham Alexander Resmi Gantikan Paul Heckingbottom di Deepdale
Alexander mengambil alih kursi kepelatihan Preston setelah meninggalkan Bradford City, tim yang sedang memuncaki klasemen League One. Keputusan ini menandai babak baru bagi sang pelatih, yang selama ini lebih banyak berkarier di divisi bawah dan Liga Skotlandia. Ia kini menghadapi tantangan terbesarnya: menyelamatkan sebuah klub bersejarah dari ancaman degradasi di kasta kedua sepak bola Inggris.
Preston sendiri tengah berada dalam situasi genting. Dari delapan pertandingan awal musim, tim berjuluk The Lilywhites itu kalah enam kali dan hanya mengumpulkan poin secukupnya untuk bertahan di posisi kedua dari bawah. Pergantian pelatih pun dianggap sebagai langkah darurat untuk membangunkan skuad yang tengah kehilangan arah.
Mengomentari momen kedatangannya, Alexander mengaku baru benar-benar merasakan bahwa dirinya sudah kembali ketika ia mulai bekerja di lapangan. “Kemarin terasa agak surreal—baru terasa nyata ketika saya sudah mengenakan perlengkapan latihan,” ujarnya kepada BBC Radio Lancashire. Ia juga menyebut malam sebelumnya menjadi momen refleksi bersama istrinya atas perjalanan panjang yang membawanya kembali ke titik ini.
Terasa Seperti Pulang ke Rumah bagi Alexander
Ketika ditanya apakah Preston terasa seperti rumah, Alexander menjawab dengan tegas. “Ya, benar, memang seperti itu,” katanya. Baginya, klub ini bukan sekadar tempat bekerja, melainkan bagian dari kehidupan pribadinya dan keluarganya selama bertahun-tahun.
Alexander mengisahkan bahwa keputusannya menerima pekerjaan di Motherwell dulu sempat menjadi momen berat. Ia dan istrinya harus meninggalkan Preston, kota yang sudah mereka tinggali dengan bahagia selama 20 tahun, demi mengikuti perkembangan anak-anak mereka. “Ketika saya mengambil pekerjaan di Motherwell, itu keputusan besar bagi saya dan istri saya untuk pindah ke Skotlandia karena kami sudah begitu bahagia di Preston selama 20 tahun,” tuturnya.
Menariknya, saat keluarga itu memutuskan kembali ke Inggris, Alexander menyerahkan pilihan tempat tinggal kepada istrinya. Ia memberi dua opsi: kawasan West Midlands, tempat mereka berdua dan keluarga besar berasal, atau kembali ke Preston di kawasan barat laut Inggris. Sang istri memilih Preston—sesuatu yang menurut Alexander memang ia harapkan. “Ini tempat yang istimewa bagi kami,” ujarnya menegaskan.
Rekam Jejak Alexander di Preston dan Karier Kepelatihannya
Nama Alexander memang bukan sosok asing bagi pendukung Preston. Selama dua periode bermain, ia menorehkan 372 penampilan liga untuk klub ini dan menjadi salah satu pemain yang dikenang. Ia pensiun sebagai pemain di Preston pada akhir musim 2011-12 dalam usia 40 tahun, setelah sempat menjabat sebagai caretaker di Deepdale pada musim tersebut.
Setelah gantung sepatu, Alexander sempat mendapat tawaran memulai karier kepelatihan di akademi Preston, namun ia menolaknya. Pilihan itu membawanya menempuh jalan yang lebih mandiri sebagai manajer, dengan menangani sejumlah klub seperti Fleetwood, Scunthorpe, Salford City, Motherwell, dan MK Dons.
Perjalanan karier tersebut memberinya pengalaman berharga dalam membangun tim dari berbagai kondisi. Kini, pengalaman itu akan diuji di level yang lebih tinggi, Championship, tempat ia belum pernah menjabat sebagai pelatih kepala. Publik Preston tentu berharap rekam jejaknya sebagai pemain legendaris bisa berbuah prestasi serupa di bangku cadangan.
Tantangan Berat Menghadapi Championship
Alexander menyadari betul posisi sulit yang ia warisi. Menurutnya, kedatangannya memberi para pemain kesempatan untuk “memulai ulang” dan membangun kembali kepercayaan diri. Ia juga menegaskan tidak akan menyeret permasalahan masa lalu ke dalam ruang ganti, memilih fokus pada apa yang bisa dibangun ke depan.
Bagi klub, penunjukan pelatih baru yang lekat dengan sejarah Preston bisa menjadi suntikan moral tersendiri. Namun, tantangannya tidak ringan: ia harus menancapkan gaya permainan yang solid di tengah jadwal kompetisi yang padat. Tim yang ada saat ini perlu waktu beradaptasi dengan ide-ide barunya.
Alexander juga menekankan bahwa perubahan tidak bisa terjadi secara instan. Ia percaya ada prinsip-prinsip permainan yang harus dipegang teguh, namun menerapkannya secara tuntas membutuhkan waktu. Inilah yang membuat periode persiapan sebelum laga kompetitif pertama menjadi begitu krusial bagi seorang pelatih baru.
Jeda Dua Pekan dan Laga Kontra Millwall
Preston akan kembali berlaga di liga setelah jeda internasional selama tiga pekan, dengan menjamu Millwall pada Sabtu, 10 Oktober. Rentang waktu tambahan itu dinilai Alexander sangat berharga, karena ia bisa lebih leluasa bekerja dengan para pemain sebelum laga kompetitif pertamanya.
Alexander membandingkan situasinya kali ini dengan pengalaman sebelumnya, ketika ia mengambil alih beberapa klub di tengah musim. “Saat saya mengambil alih dua klub lain di tengah musim, waktunya sudah mendekati akhir pekan, Kamis atau Jumat, langsung ada pertandingan,” katanya. Karena itu, memiliki dua pekan penuh untuk bekerja bersama tim ia nilai menguntungkan.
Meski begitu, Alexander tak mau terlalu jauh berandai-andai. Ia menyadari hasil sesungguhnya baru akan terlihat saat pertandingan menghadapi Millwall berlangsung. “Buktinya akan terlihat saat kami melawan Millwall,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa mewujudkan tim yang sepenuhnya sesuai idamannya butuh waktu lebih panjang dari sekadar dua pekan.
Bagi pendukung Preston, kembalinya sosok yang pernah lama mengabdi bagi klub ini membawa harapan baru. Namun, hanya hasil di lapangan yang pada akhirnya akan menentukan apakah keputusan ini menjadi titik balik atau sekadar babak lain dari perjuangan panjang The Lilywhites musim ini.
