Skip to content
Situs berita bola

Berita sepakbola dan olahraga

Gattuso Puji Nuno Tavares: Pemain Level Real Madrid

Gennaro Gattuso menilai bek Lazio, Nuno Tavares, sebagai pemain berlevel Real Madrid. Pujian itu bukan sekadar basa-basi dari seorang pelatih kepada anak asuhnya, melainkan penegasan bahwa kualitas pemain berusia 26 tahun tersebut berada di kelas yang sangat tinggi. Pernyataan tersebut disampaikan Gattuso secara langsung dalam wawancara bersama DAZN Italia.

Penilaian itu muncul di tengah awal musim yang solid bagi Lazio di Serie A. Tim asuhan Gattuso sudah mengumpulkan 10 poin dari empat pertandingan, dan Tavares menjadi salah satu pemain yang paling menonjol dalam berbagai catatan statistik. Bagi pemain yang sempat gagal menembus skuad utama Arsenal, pujian setinggi ini menjadi semacam pembuktian bahwa kepindahannya ke Italia berjalan ke arah yang benar.

Gattuso

Pujian Gattuso untuk Nuno Tavares

Dalam wawancara dengan DAZN Italia, Gattuso mengungkapkan bahwa ia sudah lama menilai Tavares sebagai pemain sekaliber klub raksasa Spanyol. Menurutnya, bek asal Portugal itu memiliki paket kemampuan yang jarang dimiliki seorang pemain bertahan, mulai dari kualitas teknis hingga kecepatan. Kombinasi itulah yang membuat Gattuso menyebut Tavares sebagai pemain yang tidak biasa.

“Selalu saya katakan bahwa Nuno Tavares adalah pemain berlevel Real Madrid,” ujar Gattuso. Ia menambahkan bahwa Tavares dianugerahi kemampuan bermain baik dengan kaki kanan maupun kaki kiri, serta memiliki kecepatan yang membuatnya berbeda dari pemain kebanyakan. Gattuso menyebutnya sebagai sosok yang atipikal, istilah yang menggambarkan pemain dengan karakteristik permainan di luar pakem umum.

Meski begitu, Gattuso juga menyoroti sisi lain dari Tavares yang perlu dipahami oleh tim. Ia menegaskan bahwa setelah bertanding, pemain itu membutuhkan waktu lebih untuk memulihkan kondisi fisiknya. Karena itu, Gattuso menilai sebuah tim hanya bisa menampung satu atau dua pemain dengan karakter seperti Tavares dalam satu waktu, meski ia tetap menggambarkan Tavares sebagai pribadi yang baik dengan bakat luar biasa.

Gattuso bahkan melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa Tavares bisa saja menghabiskan sepuluh tahun berkarier di Real Madrid jika kualitasnya dikelola dengan tepat. Ia menekankan bahwa Tavares sendiri sadar betul dirinya adalah pemain istimewa. Pernyataan ini menjadi sinyal jelas bahwa Gattuso melihat potensi besar yang belum sepenuhnya tergarap di sepanjang karier Tavares sejauh ini.

Statistik Nuno Tavares yang Membuat Gattuso Kagum

Pujian Gattuso tidak berdiri di ruang kosong, karena Tavares memang tampil dominan di lapangan. Saat Lazio bermain imbang 2-2 melawan AC Milan di Stadio Olimpico, ia memimpin rekan-rekannya dalam beberapa kategori sekaligus. Catatan itu menunjukkan bahwa perannya jauh lebih besar daripada sekadar bek pengaman di sisi sayap.

Dalam laga melawan Rossoneri tersebut, Tavares tercatat paling banyak menyentuh bola di antara pemain Lazio dengan 62 sentuhan. Ia juga memimpin dalam umpan di sepertiga akhir lapangan dengan 12 umpan, serta menjadi yang terbanyak melakukan umpan silang, yaitu tujuh kali. Dari delapan duel yang ia jalani, lima di antaranya berhasil ia menangkan.

Keunggulan itu berlanjut ke level kompetisi. Sepanjang kampanye Serie A 2026-27, Tavares memimpin skuad Lazio dalam beberapa statistik kunci:

  • Duel dimenangkan: 19 kali, setara dengan Mattia Zaccagni
  • Umpan silang: 19 kali
  • Dribel sukses: enam kali
  • Progressive carries atau penguasaan bola ke arah depan: 31 kali

Selain memimpin di sejumlah kategori, Tavares juga menempati posisi kedua di timnya untuk penguasaan bola yang berhasil direbut, dengan 17 kali. Hanya Reda Belahyane yang mencatatkan angka lebih tinggi, yaitu 19 kali. Data semacam ini menjelaskan mengapa Gattuso begitu percaya diri menyebut mantan pemain Arsenal tersebut sebagai pemain level teratas.

Start Lazio dan Bayang-Bayang Kekalahan di Coppa Italia

Performa impresif Tavares turut menopang awal musim Lazio yang cukup meyakinkan di Serie A. Dari empat pertandingan pertama, tim berjuluk Biancocelesti itu mengumpulkan 10 poin. Mereka membuka perjalanan dengan kemenangan atas Bologna, Genoa, dan Udinese.

Namun, laju tersebut sempat terhenti ketika Lazio ditahan imbang 2-2 oleh AC Milan di Stadio Olimpico pada akhir pekan. Padahal, Lazio sudah unggul 2-0 dalam laga itu sebelum akhirnya kehilangan keunggulan mereka. Hasil tersebut menjadi pukulan tersendiri karena terjadi di hadapan pendukung sendiri.

Kekecewaan di Serie A bukan satu-satunya masalah yang dihadapi Gattuso. Lazio juga berada di posisi yang merugikan dalam kejutan Coppa Italia melawan Mantova, sebuah hasil yang jelas tidak sesuai dengan ekspektasi klub besar. Jadi, meski pujian untuk Tavares mengalir, kondisi tim secara keseluruhan masih menyisakan pekerjaan rumah bagi Gattuso.

Rekam Jejak Tavares dari Arsenal ke Lazio

Perjalanan Tavares menuju titik ini tidak berjalan mulus. Ia pertama kali bergabung dengan Lazio melalui kesepakatan pinjaman pada musim 2024-25 dari Arsenal, sebelum akhirnya kepindahannya diubah menjadi permanen. Di Inggris, ia tidak pernah benar-benar mendapatkan tempat di skuad utama The Gunners.

Pengalaman kurang menyenangkan juga ia alami ketika dipinjamkan ke Nottingham Forest, masa yang digambarkan berjalan jauh dari kata memuaskan. Kesulitan beradaptasi di lingkungan sepak bola Inggris membuat kariernya sempat terlihat mandek. Kepindahan ke Serie A pun menjadi jalan keluar yang membuka babak baru bagi pemain berusia 26 tahun itu.

Menariknya, justru setelah melewati masa-masa sulit itulah Gattuso menilai Tavares bisa memiliki karier panjang bersama Real Madrid. Artinya, sang pelatih menilai bakat Tavares tidak pernah benar-benar hilang, hanya belum menemukan ekosistem yang tepat. Di Lazio, ia perlahan mendapatkan peran dan kepercayaan yang membuat potensinya terlihat kembali.

Arti Pujian Gattuso bagi Tavares dan Lazio

Pujian dari seorang pelatih berpengalaman seperti Gattuso memiliki bobot tersendiri bagi Tavares. Sebagai pemain yang pernah dianggap tidak cukup baik untuk bersaing di Premier League, pengakuan semacam itu bisa memulihkan rasa percaya diri sekaligus memantapkan posisinya di tim. Efek psikologis ini sering kali sama pentingnya dengan peningkatan aspek teknis.

Bagi Lazio, konsistensi Tavares memberi Gattuso keleluasaan dalam menyusun permainan. Seorang bek sayap yang mampu menyumbang umpan silang, dribel, dan penguasaan bola ke depan menjadi opsi serangan tambahan, bukan hanya pengaman di lini belakang. Kontribusi seperti itu sangat berpengaruh pada cara tim membangun serangan dari sisi lapangan.

Di sisi lain, pernyataan Gattuso juga bisa dibaca sebagai cara melindungi pemainnya. Dengan menyebut Tavares membutuhkan waktu pemulihan setelah bertanding dan menilai sebuah tim hanya bisa memiliki satu atau dua pemain bertipe seperti itu, Gattuso seolah menegaskan bahwa ia memahami kelebihan dan kekurangan anak asuhnya. Pesan yang ingin ia sampaikan adalah bahwa Tavares perlu dikelola, bukan dihakimi hanya dari satu-dua penampilan.

Konteks Lebih Luas dan Langkah Berikutnya

Kasus Tavares sejalan dengan pola yang kerap terjadi dalam beberapa tahun terakhir, ketika pemain yang kesulitan bersinar di Inggris justru menemukan bentuk permainan terbaiknya di Italia. Serie A dikenal memberikan ruang lebih besar bagi pemain bertipe atletis di sisi sayap, terutama karena banyak tim menggunakan formasi dengan bek sayap yang naik tinggi. Lingkungan seperti ini sangat cocok bagi pemain dengan profil seperti Tavares.

Ke depan, tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi. Statistik apik dalam empat pertandingan Serie A memang meyakinkan, tetapi penilaian publik dan peluang menuju klub besar biasanya baru muncul setelah seorang pemain mampu tampil stabil selama satu musim penuh. Jika Tavares bisa mempertahankan performanya, bukan tidak mungkin tim-tim besar mulai memperhatikannya lagi.

Sementara itu, Lazio sendiri masih harus memperbaiki catatan agar tidak lagi kehilangan keunggulan seperti saat menghadapi AC Milan. Dengan 10 poin yang sudah dikantongi, modal mereka untuk bersaing di papan atas masih terbuka lebar. Perpaduan antara kontribusi Tavares dan perbaikan kolektif akan menjadi kunci arah perjalanan Lazio musim ini.

Pada akhirnya, pernyataan Gattuso menegaskan satu hal: bakat Tavares tidak pernah diragukan, termasuk oleh pelatih yang menganggapnya pantas bermain di level Real Madrid. Yang tersisa kini adalah membuktikan bahwa penilaian itu bukan hanya pujian sesaat, melainkan gambaran nyata dari karier yang sedang dibangun ulang bersama Lazio.