Mikel Arteta mengaku sangat kecewa setelah Arsenal menelan kekalahan dari Brighton, tetapi ia menegaskan bahwa pengalaman pahit itu harus dijadikan bahan pembelajaran. Brighton menutup laga dengan kemenangan 3-0 di Amex Stadium, lewat gol Pascal Gross, Charalampos Kostoulas, dan Chema Andres. Hasil tersebut menjadi salah satu momen terburuk Arsenal musim ini sekaligus penegas bahwa Brighton sedang dalam performa yang sangat menjanjikan.
Bagi Arsenal, kekalahan ini bukan sekadar kehilangan tiga poin. Sebagai juara bertahan Premier League, mereka dituntut tampil dominan setiap pekan, sehingga hasil di markas Brighton langsung memicu pertanyaan soal konsistensi dan kesiapan mental tim. Arteta pun tidak menyembunyikan kekecewaannya dan menyebut laga itu sebagai pengalaman yang menyakitkan, namun tetap berpotensi memacu anak asuhnya untuk bangkit.

Jalannya Laga: Brighton 3-0 Arsenal di Amex Stadium
Brighton tampil agresif sejak menit awal dan berhasil memaksa Arsenal bermain di bawah tekanan. Tiga nama berbeda masuk daftar pencetak gol, yaitu Pascal Gross, Charalampos Kostoulas, dan Chema Andres, yang menunjukkan bahwa ancaman Brighton datang dari berbagai lini. Kemenangan ini melengkapi pekan yang luar biasa bagi tuan rumah sebelum jeda pertandingan.
Arteta secara terbuka memberi penghormatan kepada lawannya. Ia menyampaikan selamat kepada Brighton dan mengakui bahwa timnya tampil jauh dari standar yang biasa mereka tunjukkan. Menurutnya, masalah utama Arsenal muncul di fase awal pertandingan, ketika sejumlah kesalahan teknis membuat mereka terus berada dalam situasi sulit.
“Pertama-tama, selamat untuk Brighton. Saya benar-benar kecewa. Pada 20 atau 30 menit pertama, banyaknya kesalahan teknis membuat kami terus-menerus berada dalam tekanan. Semuanya berkaitan dengan awal pertandingan,” ujar Arteta kepada BBC Match of the Day. Ia menambahkan bahwa apa yang telah dicapai timnya sejak Piala Dunia tergolong luar biasa, namun masih ada banyak hal yang harus dipelajari dari laga ini.
Analisis Arteta: Kesalahan Teknis, Duel, dan Prinsip yang Hilang
Dalam wawancaranya dengan BBC Radio 5 Live, Arteta menilai Brighton memang layak meraih kemenangan. Ia menyoroti bahwa Arsenal gagal menjalankan hal-hal dasar dalam periode yang panjang, terutama sepanjang babak pertama. Kegagalan memenangi duel serta bola-bola kedua membuat struktur permainan mereka melebar dan mudah dieksploitasi.
Arteta juga menyebut melawan tim yang agresif menekan seperti Brighton, penerapan prinsip permainan menjadi kunci untuk keluar dari tekanan. Ketika prinsip itu tidak dijalankan, kesalahan-kesalahan kecil berubah menjadi peluang berbahaya bagi lawan. Akibatnya, Arsenal terjebak dalam tekanan berkepanjangan dan tidak mampu keluar dari situasi tersebut dengan cara yang biasanya mereka lakukan.
“Brighton layak memenangi pertandingan ini. Kami tidak melakukan hal-hal dasar dengan benar untuk waktu yang lama, terutama di babak pertama. Kami tidak cukup memenangi duel, dan bola-bola kedua, dan itu membuat kami terentang. Dengan kesalahan yang kami buat, dan terutama dengan prinsip yang tidak kami terapkan, melawan tim yang ingin menekan Anda, hal itu menempatkan kami terus dalam tekanan,” jelasnya. Ia menutup dengan menegaskan bahwa timnya berada di bawah standar yang dibutuhkan.
Seberapa Berat Kekalahan Ini bagi Arsenal?
Kekalahan 3-0 di Amex Stadium tercatat sebagai kekalahan terbesar Arsenal di Premier League sejak Mei 2023. Menariknya, kekalahan tersebut juga terjadi melawan Brighton, ketika The Gunners tumbang 0-3 di Emirates Stadium. Pola ini menunjukkan bahwa Brighton, dengan gaya permainan menekan dan agresif, memang menjadi lawan yang merepotkan bagi Arsenal.
Data dari Opta Analyst juga menempatkan hasil ini dalam konteks yang lebih luas. Kekalahan tersebut merupakan yang terbesar di liga bagi Arsenal dalam sebuah musim ketika mereka berstatus juara bertahan, sejak kekalahan 3-0 di Everton pada Oktober 1989. Catatan ini mempertegas bahwa hasil di Brighton bukan sekadar kehilangan poin biasa, melainkan sebuah anomali bagi tim yang biasanya sulit dihancurkan.
Bagi Arteta, jeda internasional yang datang setelah laga ini memberi ruang untuk mencerna kekalahan tersebut. Ia mengakui bahwa waktu tambahan itu penting karena kekalahan tersebut sangat menyakitkan. Dalam pertandingan apa pun, menurutnya, sebuah tim bisa sangat terekspos jika tidak menjalankan apa yang seharusnya dilakukan.
Momentum Brighton dan Tren yang Sedang Berubah
Kemenangan atas Arsenal melengkapi pekan fantastis bagi Brighton. Sebelumnya, mereka berhasil mengalahkan Manchester United di EFL Cup, dan bahkan menghancurkan Coventry City dengan skor 5-0. Rangkaian hasil tersebut menunjukkan bahwa Brighton tidak hanya menang karena keberuntungan, tetapi karena performa tim yang sedang berada di titik terbaiknya.
Berkat hasil ini, Brighton naik ke posisi ketiga klasemen. Posisi tersebut menjadi sinyal bahwa tim asuhan mereka kini layak diperhitungkan sebagai salah satu kekuatan yang bisa mengganggu peta persaingan di papan atas. Bagi Arsenal, ini menjadi peringatan bahwa tekanan di Premier League musim ini datang dari lebih banyak arah.
Kekalahan dari Brighton sekaligus menggarisbawahi perubahan tren yang perlu diantisipasi Arsenal. Tim-tim dengan gaya menekan tinggi terbukti mampu menyulitkan mereka ketika pressing berhasil memutus alur umpan dari lini belakang. Jika pola ini tidak segera dibenahi, lawan-lawan berikutnya bisa meniru pendekatan serupa untuk meraup keuntungan.
Apa Berikutnya untuk Arsenal?
Setelah jeda internasional, laga pertama Arsenal adalah menjamu Leeds United pada 10 Oktober. Pertandingan tersebut menjadi kesempatan bagi Arteta dan para pemainnya untuk membuktikan bahwa pelajaran dari Brighton benar-benar dipahami dan diterapkan di lapangan. Bermain di depan pendukung sendiri juga bisa menjadi sarana memulihkan kepercayaan diri setelah hasil buruk di Amex Stadium.
Arteta menegaskan bahwa timnya masih punya banyak hal untuk dipelajari dari kekalahan ini. Rekor sejak Piala Dunia disebutnya luar biasa, tetapi itu tidak cukup untuk menutupi kekurangan yang muncul di Brighton. Dengan kata lain, kualitas yang sudah dibangun harus dipertahankan sekaligus dilengkapi dengan konsistensi penerapan prinsip permainan di setiap laga.
Kekalahan Arsenal dari Brighton menjadi pukulan yang menyakitkan, namun juga menghadirkan pelajaran berharga yang tidak bisa diabaikan. Kesalahan teknis di awal pertandingan, kegagalan memenangi duel, serta lemahnya penerapan prinsip permainan menjadi tiga faktor utama yang diidentifikasi Arteta. Sejarah mencatat hasil ini sebagai salah satu kekalahan terberat mereka dalam beberapa tahun terakhir, sehingga wajar jika reaksi kekecewaan muncul dari sang pelatih.
Di sisi lain, Brighton tengah menikmati periode terbaiknya dan kini menempel di posisi ketiga klasemen. Bagi Arsenal, laga melawan Leeds United pada 10 Oktober akan menjadi ujian pertama untuk membuktikan bahwa pelajaran dari Amex Stadium benar-benar diimplementasikan, bukan sekadar diucapkan dalam konferensi pers.
