Skip to content

Joshua Kushner Menyesal Ikut Rencana Investasi Piala Dunia

Joshua Kushner, kapitalis ventura yang sebelumnya ditunjuk sebagai investor utama dalam rencana investasi Piala Dunia yang digagas Presiden FIFA Gianni Infantino, kini menyatakan penyesalannya. Rencana yang dikenal sebagai FIFA Forward Enterprise (FFE) itu akhirnya dibatalkan setelah memicu krisis besar di tubuh organisasi sepak bola dunia tersebut. Dalam pernyataan pertamanya di depan publik sejak skema ini dihentikan, Kushner mengaku tidak akan pernah terlibat jika sejak awal mengetahui masalahnya akan berkembang sejauh ini.

Kushner, yang merupakan saudara laki-laki dari menantu Presiden AS Donald Trump, sempat menjadi sorotan tajam karena keterlibatannya dalam dunia sepak bola global. Rencana investasi Piala Dunia yang digagasnya bersama Infantino bertujuan mengucurkan dana dalam jumlah besar kepada 211 asosiasi anggota FIFA. Namun, skema tersebut langsung menuai gelombang penolakan dari UEFA dan sejumlah pihak lain setelah terungkap ke publik pada Juli lalu, hingga akhirnya dibatalkan hanya dalam hitungan hari.

Joshua Kushner

Joshua Kushner Buka Suara soal Penyesalannya

Dalam pernyataan resminya, Kushner mengaku gagal memahami dinamika politik sepak bola global yang ternyata sangat kompleks. “Seandainya kami tahu masalah ini akan berkembang menjadi seperti sekarang, kami tidak akan pernah terlibat,” ujarnya. Meski demikian, ia tetap membela skema FFE dan menegaskan bahwa pihaknya mendukung penuh motivasi di balik rencana tersebut.

Kushner menekankan bahwa maksud utama FFE adalah menyalurkan lebih banyak modal dan ekuitas secara adil kepada seluruh 211 asosiasi anggota FIFA. Menurut dia, langkah ini bertujuan memberikan investasi yang jauh lebih besar kepada negara-negara berkembang untuk memelihara bakat lokal. Selain itu, dana tersebut juga diharapkan dapat mendukung sepak bola akar rumput, meningkatkan pengalaman penggemar, dan menumbuhkan sepak bola secara global di semua negara.

“Uang dalam sepak bola secara historis terkonsentrasi di antara sekelompok kecil negara,” tulis Kushner dalam pernyataannya. Ia menambahkan bahwa gagasan FFE adalah sesuatu yang akan diputuskan melalui voting oleh setiap asosiasi anggota, bukan sebuah kewajiban atau keputusan sepihak. Kushner juga menegaskan bahwa perusahaan investasinya, Thrive Eternal, memiliki rekam jejak panjang sebagai mitra bagi semua konstituen.

Kronologi Rencana Investasi Piala Dunia yang Gagal

Thrive Eternal, perusahaan yang didirikan Kushner, sebelumnya mengadakan pembicaraan dengan Infantino untuk memimpin investasi senilai 4,2 miliar dolar AS atau sekitar 3,1 miliar poundsterling. Rencananya, dana tersebut akan digunakan untuk membeli 20 persen saham anak perusahaan komersial baru FIFA. Namun, gagasan ini ditinggalkan hanya beberapa hari setelah terungkap pada Juli lalu, ketika gelombang penolakan datang dari berbagai penjuru. Tekanan publik dan politik yang sangat besar membuat skema ini akhirnya dihentikan.

Sebelum rencana tersebut dibatalkan pada akhir Juli, FIFA sempat menyatakan bahwa Thrive Eternal diharapkan menjadi pemimpin kelompok investor untuk FFE. FIFA juga mengklaim bahwa pendanaan yang akan didistribusikan kepada setiap asosiasi nasional untuk siklus 2027-2030 akan meningkat dari 5,9 juta poundsterling menjadi 14,7 juta poundsterling. Angka-angka ini disebut-sebut sebagai salah satu daya tarik utama dari skema yang gagal tersebut.

Namun, UEFA dan sejumlah pihak menilai skema ini bermasalah sejak awal. UEFA bahkan meminta pengadilan di New York untuk menyetujui subpoena atau panggilan pengadilan guna mendapatkan kesaksian dan dokumen dari Kushner serta Thrive Eternal. Langkah ini diambil saat UEFA mempertimbangkan untuk mengajukan pengaduan kriminal terhadap Infantino di Swiss.

UEFA dan Pertarungan Hukum Melawan Infantino

UEFA telah memimpin pemberontakan terhadap Presiden FIFA yang saat ini menghadapi desakan untuk mundur. Selain meminta kesaksian Kushner, UEFA juga mengajukan permintaan pengungkapan dokumen dari dua entitas bisnis FIFA di Amerika Serikat. Nama Greg Maffei, finansir Amerika yang menjadi penasihat kunci dalam kesepakatan ini, juga turut dimintai keterangan oleh UEFA.

Meski UEFA menegaskan bahwa Kushner dan Maffei tidak diperkirakan menjadi terdakwa dalam proses hukum apa pun, mereka mengklaim bahwa keduanya pertama kali membahas konsep FFE pada Juli 2025. UEFA juga menyatakan bahwa Infantino telah membahas konsep dasar rencana ini dengan Kushner selama hampir setahun sebelum lembar kesepakatan akhirnya ditandatangani. Klaim ini memperkuat dugaan bahwa skema tersebut disusun secara tertutup tanpa melibatkan pihak-pihak yang seharusnya diajak bicara.

Pengacara UEFA juga berargumentasi bahwa Piala Dunia sengaja dinilai terlalu rendah, yakni sekitar 15 miliar poundsterling. Nilai tersebut, menurut UEFA, bukanlah hasil lelang yang kompetitif dan terbuka, serta tidak diuji oleh penilai independen mana pun. UEFA juga menuding Infantino gagal berkonsultasi dengan jajaran pimpinan FIFA mengenai rencana investasi ini.

Dampak dan Konteks yang Lebih Luas

Penyesalan Joshua Kushner ini muncul di tengah gejolak besar yang melanda FIFA dan Infantino. Kasus ini telah memperdalam perpecahan antara FIFA dan UEFA, dua badan sepak bola terbesar di dunia. Infantino kini menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mundur dari jabatannya sebagai presiden.

Di luar kontroversi ini, Kushner baru saja menyepakati pembelian tim basket Los Angeles Lakers dengan nilai rekor 12,5 miliar dolar AS atau sekitar 9,3 miliar poundsterling. Kesepakatan tersebut menunjukkan besarnya pengaruh finansial Kushner di dunia olahraga. Namun, keterlibatannya dalam rencana investasi Piala Dunia justru menjadi pelajaran berharga tentang kompleksitas politik sepak bola global.

Yang menarik, meski Kushner menyatakan penyesalan, ia tetap membela motivasi di balik FFE. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang bagaimana seharusnya pendapatan sepak bola global didistribusikan masih akan terus berlanjut. Pertanyaan besarnya sekarang adalah apakah UEFA akan benar-benar membawa kasus ini ke ranah pidana di Swiss, dan bagaimana Infantino akan merespons tekanan yang semakin deras.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa tata kelola sepak bola global penuh dengan dinamika politik yang rumit. Joshua Kushner mungkin telah menarik diri dari rencana investasi Piala Dunia, tetapi konsekuensi dari skema yang gagal itu masih terus bergulir. UEFA dan FIFA kini berada di jalur tabrakan, dan masa depan kepemimpinan Infantino berada dalam ketidakpastian.

Yang jelas, rencana investasi Piala Dunia yang sempat digagas bersama Kushner telah membuka luka lama dalam hubungan FIFA-UEFA. Penyesalan Kushner tidak serta-merta mengakhiri krisis ini, karena tuntutan hukum masih membayangi langkah Infantino. Publik sepak bola dunia kini menunggu babak berikutnya dari drama yang belum selesai ini.