Skip to content
Situs berita bola

Berita sepakbola dan olahraga

Shakhtar Donetsk di Stamford Bridge, Markas Baru Ukraina

Shakhtar Donetsk akan menjalani laga kandang Liga Champions musim ini di Stamford Bridge, stadion milik Chelsea di London. Keputusan itu membuat klub asal Ukraina timur tersebut kembali bermain di “rumah sementara”, jauh dari Donetsk yang sudah lebih dari satu dekade tak bisa mereka tempati. Laga pertama di sana adalah melawan AEK Athens pada Rabu, disusul pertemuan dengan Real Madrid, Sporting, dan Fenerbahce.

Bagi banyak warga Ukraina yang kini tinggal di Inggris, kehadiran Shakhtar Donetsk di Stamford Bridge bukan sekadar urusan taktik dan hasil pertandingan. Klub ini meninggalkan Donetsk pada 2014, setelah kota itu jatuh ke tangan kelompok yang didukung Rusia, dan sejak itu berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Empat laga di London menjadi alasan bagi diaspora Ukraina untuk berkumpul, mengenang kampung halaman, dan merayakan identitas mereka di tengah situasi yang tidak pasti.

Shakhtar Donetsk

Shakhtar Donetsk di Stamford Bridge: Empat Laga Kandang di London

Sebagai tuan rumah di kompetisi Eropa musim ini, Shakhtar harus mencari stadion di luar Ukraina, dan pilihannya jatuh pada Stamford Bridge. Klub menyediakan paket empat pertandingan bagi para pendukung, sehingga penonton bisa membeli semacam tiket musiman untuk seluruh laga kandang Liga Champions. Skema itu disambut antusias oleh fans yang selama bertahun-tahun tidak punya kesempatan menonton tim kesayangan mereka secara rutin.

Dima Prasolov, yang meninggalkan Donetsk menuju Kyiv setelah perang dimulai dan sekarang tinggal di Kent, termasuk yang paling menantikan kesempatan itu. “Saya sangat gembira karena ini pertama kalinya dalam sekitar 15 tahun saya bisa membeli semacam tiket musiman untuk Shakhtar,” ujarnya. Menurut dia, hal itu berarti segalanya karena Shakhtar adalah klub yang ia dukung sepanjang hidup, sementara sejak invasi Rusia, menonton tim secara teratur nyaris mustahil bagi orang-orang Donbas.

Prasolov menambahkan bahwa situasinya terasa sangat emosional, mengingat besarnya arti klub tersebut bagi dirinya dan keluarganya. Artem Genne, yang kini tinggal di West Midlands, bahkan berencana menghadiri keempat laga kandang itu. Baginya, bertemu sesama orang dari daerah asalnya di luar negeri memberi rasa seperti pulang dan menyisakan harapan, sesuatu yang ia sebut tak lagi bisa disentuh dalam keseharian.

Perjalanan Panjang Shakhtar Mencari Markas Sejak 2014

Kenangan favorit Genne tentang sepak bola adalah saat ia berdiri di lapangan Donbas Arena dan mengibarkan bendera Liga Champions, sebelum Shakhtar menghadapi Chelsea pada 2012. Dua tahun setelah momen itu, Donetsk jatuh ke tangan kelompok yang didukung Rusia, dan banyak warga memilih meninggalkan kota, termasuk Genne. Sebagian besar pengungsi menyebar ke berbagai wilayah Ukraina dan ke luar negeri, sementara klub sepak bola kebanggaan daerah itu terpaksa mencari tempat baru.

Lebih dari satu dekade kemudian, pencarian itu belum benar-benar selesai. Shakhtar sempat berlabuh di Kyiv, Lviv, dan Kharkiv untuk pertandingan di dalam negeri, sedangkan laga-laga Eropa membuat mereka harus menetap sementara di Polandia, Slovenia, dan Jerman. Setiap perpindahan membawa konsekuensi tersendiri, mulai dari jauhnya basis pendukung hingga hilangnya rasa memiliki terhadap sebuah stadion. Kondisi itu menjelaskan mengapa bermain di Stamford Bridge terasa lebih dari sekadar solusi logistik.

Ketika invasi dimulai, Genne mengenang, banyak orang pergi dengan keyakinan situasinya akan selesai dalam beberapa pekan dan mereka bisa kembali. Kenyataan berkata lain, dan hingga kini mereka masih menetap jauh dari kota asal. Karena itu, bertemu orang-orang dari daerah asalnya saat berada di luar negeri terasa begitu berarti: ada nilai yang dibagi bersama dan ingatan tentang masa ketika segalanya masih berbeda.

Ketidakpastian yang Menyertai Setiap Pertandingan

Bagi jajaran manajemen Shakhtar, bermain di London tidak pernah lepas dari kenyataan di rumah. Chief executive Sergei Palkin mengungkapkan bahwa tim U-12 klub harus dipindahkan ke wilayah Kyiv yang dinilai lebih aman setelah serangan-serangan terbaru. Sementara itu, pertandingan tim putri mereka sempat terganggu oleh serangan drone di sekitar lokasi.

“Setiap hari ketika tim kami pergi ke lapangan, itu jauh lebih dari sekadar sepak bola, karena di belakangnya ada banyak tantangan setiap hari,” kata Palkin. Ia menyebut persoalan yang dihadapi bersifat kemanusiaan, mental, dan menyangkut keluarga para pemain serta akademi. Tantangan yang paling berat sekaligus paling penting, menurut dia, adalah ketidakpastian: bangun pagi tanpa tahu apa yang akan terjadi hari ini atau besok.

Palkin menegaskan bahwa sebagian peran Shakhtar ketika bermain di London dan kota-kota lain di Eropa adalah menyampaikan pesan itu dan mengingatkan publik tentang apa yang sedang berlangsung di Ukraina. Dengan kata lain, setiap pertandingan kandang di luar negeri juga berfungsi sebagai kanal informasi. Beban psikologis yang menyertai para pemain pun menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan klub musim ini.

Visa dan Biaya Jadi Kendala bagi Sebagian Pendukung

Keputusan bermain di London tidak sepenuhnya disambut positif di Ukraina. Kesulitannya jelas: biaya visa mencapai £135, dan permohonan harus diajukan setidaknya tiga bulan sebelum masuk ke Inggris. Bagi banyak orang, syarat itu membuat perjalanan ke Stamford Bridge praktis mustahil, betapapun besar keinginan mereka mendukung tim.

Seorang pendukung Shakhtar yang berbicara tanpa menyebut namanya, tetapi rutin menonton laga kandang dan tandang di Ukraina, mengatakan bahwa uang sebesar itu bisa setara dengan penghasilan sebulan bagi sebagian warga. Selain itu, menurut dia, hampir tak ada orang di Ukraina yang punya waktu menunggu berbulan-bulan hanya untuk mengurus visa. Akibatnya, keinginan mendukung tim secara langsung berbenturan dengan aturan keimigrasian yang dirasa terlalu rumit.

Sebagai gantinya, banyak penggemar akan menonton bersama di pub-pub di berbagai kota, termasuk dari kalangan yang sebenarnya bukan bagian dari basis pendukung tradisional Shakhtar. Dukungan semacam ini menunjukkan bahwa ketertarikan terhadap klub melampaui batas-batas kesetiaan sepak bola biasa. Bagi mereka, Shakhtar mewakili sesuatu yang lebih besar daripada sekadar sebuah tim.

Ketika Rivalitas Dikesampingkan demi Ukraina

Dinamika dukungan sepak bola di Ukraina berubah bagi banyak klub sejak invasi 2022, dan basis penggemar Shakhtar sendiri telah bergeser sejak 2014. Banyak ultras ikut bertempur dalam perang, tetapi tetap mendukung klub mereka dari kejauhan. Genne menuturkan, dua kawannya adalah pendukung Dynamo Kyiv, namun di Eropa mereka saling mendukung karena yang dipertaruhkan adalah representasi negara.

Menurut Genne, para hooligan tidak lagi berkelahi satu sama lain karena mereka tahu musuh mereka kini cuma satu, dan itu bukan musuh di dunia sepak bola. Pendukung lain menggambarkan suasana pertandingan Shakhtar seperti sebuah keluarga besar, di mana rivalitas kalah oleh kesadaran bahwa tim ini mewakili Ukraina. Ukraina selalu berada di urutan pertama, dan sepak bola datang setelahnya.

Antusiasme terhadap laga-laga Shakhtar di Inggris sendiri sudah terbukti. Ketika tiket laga tandang melawan Crystal Palace pada semifinal Europa Conference League musim lalu dijual, dan saat mereka menghadapi Arsenal di Liga Champions 2024-25, jatah tiket untuk pendukung Shakhtar habis dalam satu jam. Prasolov memperkirakan hal serupa akan terjadi di London, mengingat besarnya komunitas Ukraina di kawasan barat kota itu yang sudah lama menetap dan selalu hadir setiap kali tim Ukraina bertanding.

Ia membayangkan akan ada banyak lagu dan nyanyian nasional Ukraina di stadion, dengan suasana yang hangat dan bersahabat. Selain menonton pertandingan, momen ini juga dipakai untuk merayakan budaya Ukraina melalui berbagai kegiatan penggalangan dana. Genne menyebut komunitasnya rutin menggelar acara seperti konser musisi Ukraina untuk mengumpulkan dana bagi perlengkapan medis dan kebutuhan lainnya, sehingga meskipun jauh dari tanah air, mereka tetap bisa membantu.

Pesan yang Dibawa Shakhtar ke Panggung Eropa

Klub juga ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mempererat hubungan dengan warga Ukraina yang tinggal di London. Palkin mengatakan Shakhtar memiliki kedekatan yang baik dengan diaspora Ukraina di Inggris dan akan menggelar kegiatan bersama anak-anak Ukraina, termasuk mengunjungi sekolah dan mengajak mereka mengikuti sesi latihan bersama tim. Bagi warga Ukraina yang menetap di sana, ini menjadi penghubung yang penting dengan kampung halaman.

London memang menjadi salah satu tujuan dari sekitar 265.000 warga Ukraina yang mencari perlindungan di Inggris, dan Shakhtar berharap bisa terus meningkatkan kesadaran tentang persoalan yang dihadapi di rumah. “Bagi Ukraina, sangat penting untuk terlihat pada momen sejarah kami ini. Dan bagi kami itu penting karena kami bermain untuk bangsa kami,” ujar Palkin. Ia menyoroti bahwa hampir seluruh berita yang datang dari Ukraina saat ini bernuansa negatif, sehingga kehadiran Ukraina di turnamen seperti Liga Champions membawa satu pesan: bahwa mereka masih hidup, terus berjuang, bekerja, dan bersaing di panggung tertinggi.

Amir, pendukung Shakhtar lain di Inggris yang meninggalkan Donetsk pada usia 15 tahun dan kini tinggal di London, menyebut klub itu sebagai mercusuar harapan. Menurut dia, melihat atlet Ukraina berhasil di level internasional memberi ketenangan dan rasa kuat bagi masyarakat Ukraina, sekaligus menghadirkan kembali keterhubungan dengan akar dan pencapaian nasional bagi mereka yang hidup di perantauan. Ia menilai penting bahwa klub dari Ukraina timur, wilayah yang saat ini diduduki Rusia, justru menjadi wakil Ukraina di kancah internasional, karena hal itu mengingatkan dunia pada akar daerah Shakhtar dan Donetsk secara keseluruhan.

Penutup

Laga melawan AEK Athens pada Rabu akan menjadi momen emosional bagi banyak pendukung Shakhtar dan warga Ukraina, sebelum Real Madrid, Sporting, dan Fenerbahce menyusul bertandang ke Stamford Bridge. Bagi komunitas yang tersebar di Inggris, kehadiran Shakhtar Donetsk di London menghadirkan ruang aman untuk berkumpul sejenak dari ketidakpastian yang mereka hadapi. Dukungan yang datang dari berbagai kalangan, termasuk dari penggemar klub rival, menunjukkan bahwa sepak bola di sini berfungsi sebagai perekat identitas.

Genne merangkumnya dengan sederhana: kabar baik dan hasil positif apa pun membawa kegembiraan, membuat orang sedikit lebih bahagia, meski tidak serta-merta melupakan hal-hal lain yang sedang terjadi. Menurut dia, ini seperti mengingat kembali apa arti kegembiraan hidup, yaitu mendukung klub, bersenang-senang, berkumpul, dan merasakan kebersamaan. Semua itu jauh lebih besar daripada sekadar sepak bola, analisis performa pemain, dan gol.