Skip to content
Situs berita bola

Berita sepakbola dan olahraga

Burnham Sebut Larangan Alkohol di Stadion Diskriminasi

Perdana Menteri Andy Burnham menyebut larangan bagi penonton untuk menikmati alkohol di tribun saat pertandingan sepak bola pria sebagai bentuk diskriminasi. Menurutnya, tidak adil jika penggemar sepak bola dijadikan satu-satunya kelompok yang dibatasi ketika cabang olahraga lain tidak menghadapi aturan serupa. Ia pun membuka kemungkinan bahwa perubahan aturan bisa dimulai lewat skema uji coba.

Pernyataan itu muncul ketika Burnham menjawab pertanyaan awak media dalam kunjungannya ke Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Sejumlah pihak langsung bereaksi: otoritas kepolisian memperingatkan risiko keselamatan, sementara asosiasi penggemar justru menyambut baik gagasan peninjauan aturan. Pemerintah sendiri menegaskan bahwa yang disampaikan Burnham adalah pendapat pribadi yang sudah lama ia pegang, bukan pengumuman kebijakan resmi.

Burnham

Isi Pernyataan Burnham soal Larangan Alkohol di Stadion

Dalam aturan yang berlaku di Inggris, penonton dilarang mengonsumsi alkohol dalam jarak pandang ke lapangan di stadion klub yang berlaga di lima tier teratas sepak bola pria. Ketentuan ini tidak berlaku di cabang olahraga lain, sehingga penggemar sepak bola dinilai diperlakukan berbeda dibanding penonton rugby, misalnya, yang bisa menikmati minuman di tribun.

Burnham mengaku sudah lama mempertanyakan hal itu. “Saya rasa undang-undang itu berasal dari era ketika sepak bola sangat berbeda,” ujarnya kepada reporter. Ia menambahkan, “Saya sungguh percaya ada alasan untuk menghapus diskriminasi itu. Ada berbagai cara yang bisa dilakukan, dan itu bisa dilakukan lewat uji coba.”

Ia menegaskan tidak akan mundur dari sikapnya. “Tapi saya tidak akan berpaling dari pandangan yang sudah lama saya pegang. Saya tidak melihat bagaimana bisa adil jika sebagian pendukung satu cabang olahraga diperlakukan secara berbeda,” katanya. Sebelumnya, ia juga menilai tidak adil jika penggemar sepak bola “dijadikan sasaran khusus”.

Kedekatan Burnham dengan dunia sepak bola bukan hal baru. Ia dikenal sebagai penggemar berat dan pemegang tiket musiman klub Liga Premier Everton. Beberapa waktu sebelum menjabat perdana menteri, ia sudah mengkritik pembatasan tersebut saat menonton pertandingan rugby league di Hill Dickinson Stadium, stadion milik Everton, di mana penonton saat itu bebas menikmati minuman di tribun.

Latar Belakang: Aturan Warisan Era Thatcher

Larangan ini bukan kebijakan baru. Regulasi tersebut diperkenalkan pada 1985 oleh pemerintahan Margaret Thatcher dan diberlakukan untuk stadion sepak bola di Inggris serta Wales. Pada masa itu, Menteri Dalam Negeri Leon Brittan menyatakan alkohol merupakan “faktor penyumbang utama dalam perilaku penuh kekerasan dan kekacauan” di stadion sepak bola.

Seiring waktu, situasi sepak bola Inggris berubah cukup besar, terutama setelah berbagai upaya pembenahan keamanan dan tata kelola kompetisi. Karena itu, muncul seruan agar aturan lama ditinjau ulang. Sebuah tinjauan tata kelola sepak bola yang dipimpin penggemar pada 2021 secara eksplisit meminta agar undang-undang tersebut diperiksa kembali.

Asosiasi Penggemar Sepak Bola (Football Supporters’ Association/FSA) menilai regulasi ini sudah usang. Menurut mereka, aturan yang usang seharusnya dibuka untuk ditinjau, apalagi karena pembatasan serupa tidak diterapkan pada penonton di ajang olahraga lain. Di sisi lain, kepolisian justru meminta agar pelonggaran tidak dilakukan tergesa-gesa.

Kepolisian Peringatkan Risiko bagi Keselamatan dan Penegakan Hukum

Juru bicara Unit Kepolisian Sepak Bola Inggris (UKFPU) memperingatkan bahwa perubahan aturan akan menimbulkan “tantangan” bagi kerja kepolisian dan bagi keselamatan staf maupun penonton di pertandingan sepak bola. Pihaknya bahkan menyatakan keinginan bertemu langsung dengan perdana menteri untuk menjelaskan persoalan yang mereka hadapi di lapangan.

Menurut UKFPU, masalahnya terletak pada pola perilaku yang khas di sepak bola. “Cabang olahraga lain tidak melihat kekerasan dan perilaku kriminal dari pendukung mereka seperti yang terjadi di sepak bola, meskipun hanya sebagian kecil, dengan alkohol sering berperan signifikan dalam perilaku penuh kekerasan dan kekacauan,” ujar juru bicara tersebut.

Ia menambahkan bahwa membiarkan konsumsi alkohol lebih besar selama pertandingan hanya akan memperburuk keadaan. “Tidak bertanggung jawab jika hal ini dipicu dengan mengizinkan konsumsi alkohol yang lebih besar selama pertandingan,” katanya. Ia juga menyebut akan “sangat gegabah membuat perubahan mendasar tanpa pemeriksaan menyeluruh atas bukti dan konsultasi yang bermakna dengan praktisi kepolisian yang punya keahlian di bidang ini”.

Asosiasi Penggemar dan Klub Justru Mendukung Peninjauan

Ketua FSA, Tom Greatrex, menilai perlakuan terhadap penggemar sepak bola terlalu keras. Menurutnya, tidak adil jika penggemar sepak bola dikriminalkan hanya karena minum satu gelas sambil menonton pertandingan, sementara penonton di acara lain bisa melakukannya di kursi yang sama. Ia mencontohkan penonton konser Oasis atau pertandingan rugby league yang tidak menghadapi pembatasan serupa.

Greatrex menyebut banyak klub sepak bola berada di pihak yang menginginkan perubahan aturan. Ia pun menyambut pernyataan Burnham sebagai sinyal positif. “Kami menyambut komentar perdana menteri dan sepenuhnya setuju bahwa undang-undang ini sudah usang dan layak ditinjau,” tuturnya.

Posisi FSA ini menunjukkan bahwa isu tersebut tidak sekadar soal kebiasaan menonton, melainkan juga soal rasa keadilan bagi kelompok pendukung. Mereka memandang pembatasan itu sebagai bentuk perlakuan berbeda yang tidak lagi sejalan dengan kenyataan sepak bola modern.

Olahraga Lain Sudah Lebih Longgar, Skotlandia Masih Ketat

Perbandingan dengan cabang olahraga lain menjadi inti argumen para pendukung perubahan. Pada musim ini, aturan justru sudah dilonggarkan di Liga Super Wanita (WSL), di mana seluruh klub diizinkan menawarkan alkohol kepada pendukung di tribun setelah dua musim uji coba yang dinilai berhasil. Langkah itu menjadi preseden bahwa pelonggaran bisa dijalankan secara terukur.

Di Skotlandia, regulasinya bahkan lebih ketat. Penjualan umum alkohol di stadion sepak bola di sana telah dilarang sejak 1981. Meski demikian, penjualan uji coba belakangan mulai dilakukan, dan penonton kini sudah bisa membeli alkohol di pertandingan yang digelar di Hampden Park.

Fakta bahwa uji coba di berbagai ajang berjalan tanpa insiden besar menjadi salah satu bahan argumen bagi pihak yang menginginkan aturan di sepak bola pria Inggris direvisi. Namun, pihak yang menolak tetap berpegang pada data kepolisian mengenai kaitan alkohol dengan gangguan ketertiban.

Apa yang Mungkin Terjadi Berikutnya

Sumber di dalam pemerintah menekankan bahwa pernyataan Burnham adalah penegasan atas pandangan yang sudah lama ia miliki, bukan bagian dari pengumuman kebijakan. Lingkaran pemerintahan tidak membacanya sebagai indikasi bahwa perdana menteri sedang menyiapkan perubahan undang-undang di sektor ini.

Meski begitu, skema uji coba atau pilot untuk mengkaji kemungkinan perubahan tidak sepenuhnya dikesampingkan. Kendati demikian, langkah yang lebih luas akan menuntut konsultasi ekstensif yang melibatkan klub sepak bola, perwakilan penggemar, serta Departemen Digital, Kebudayaan, Media, dan Olahraga. Hingga kini, belum ada rencana resmi ke arah sana.

Artinya, perdebatan soal larangan alkohol di stadion sepak bola kemungkinan masih berjalan panjang. Di satu sisi ada dorongan kesetaraan perlakuan antarcabang olahraga, di sisi lain ada kekhawatiran nyata soal keselamatan dan ketertiban. Tanpa konsultasi menyeluruh, perubahan besar sulit diwujudkan dalam waktu dekat.

Pernyataan Andy Burnham membuka kembali diskusi lama tentang larangan alkohol di tribun stadion sepak bola: sebuah aturan yang lahir pada 1985 dan kini dianggap oleh sebagian pihak sebagai bentuk perlakuan tidak adil. FSA dan sejumlah klub mendukung peninjauan, sementara kepolisian memperingatkan risiko keselamatan jika aturan dilonggarkan tanpa kajian mendalam.

Yang perlu dicermati, komentar perdana menteri itu belum berbuah kebijakan. Pemerintah menegaskan tidak ada rencana perubahan hukum saat ini, dan setiap langkah lanjutan hanya mungkin terjadi melalui uji coba serta konsultasi yang melibatkan banyak pihak. Dengan demikian, nasib aturan ini masih terbuka, tetapi jalannya tidak akan singkat.