Situs berita bola

Peter Robinson, Fotografer FIFA yang Tak Fanatik Bola

Peter Robinson adalah sosok di balik banyak foto ikonik sepak bola dunia. Pria berusia 82 tahun ini telah memotret di 13 edisi Piala Dunia dan menjadi fotografer resmi FIFA selama dua dekade, namun ia dengan terbuka mengaku tidak pernah menjadi penggemar berat olahraga itu.

Pengakuan tersebut justru menjadi kunci dari karya-karyanya. Sepanjang karier, Robinson lebih tertarik merekam cerita di pinggir lapangan ketimbang mengejar momen gol, dan pendekatan itulah yang kini dirayakan dalam sebuah pameran di Leicester, Inggris. Kurator Hugo Worthy menilai foto-foto Robinson mampu “bercerita banyak tentang sepak bola, tetapi lebih banyak lagi tentang kehidupan”.

Siapa Peter Robinson, Fotografer FIFA Veteran

Dalam wawancara dengan BBC, Robinson mengisahkan perjalanan kariernya yang ia sendiri sebut “gila”. Ia telah meliput kompetisi di hampir 100 negara dan memotret sederet nama besar seperti Diego Maradona, Lionel Messi, Pele, hingga Franz Beckenbauer. Kini ia menetap di Rutland, Inggris, setelah puluhan tahun berpindah dari satu stadion ke stadion lain.

Meski daftar klien dan lokasinya terdengar mentereng, Robinson tidak pernah menempatkan diri sebagai penonton fanatik. Baginya, sepak bola adalah pintu masuk untuk mengamati manusia, bukan sekadar pertandingan yang harus dimenangkan salah satu pihak. Sikap inilah yang membuatnya bertahan puluhan tahun di profesi yang menuntut mobilitas tinggi dan kesabaran panjang.

Pameran yang sedang berlangsung menyoroti sisi lain dari sosoknya: kemampuan membaca situasi kecil yang biasanya luput dari kamera fotografer olahraga. Foto-foto yang dipamerkan bukan potret kemenangan, melainkan potret manusia di sekitar pertandingan.

Dari Booking Band ke Piala Dunia 1970

Jalan Robinson menuju lapangan sepak bola bermula jauh dari sorotan. Pada dekade 1960-an, saat masih mengurus penampilan band-band lokal di Leicester, ia bertemu The Contacts, grup yang beranggotakan mahasiswa fotografi Leicester School of Art—kini De Montfort University. Ia mengaku tertarik pada “energi yang bagus” dari grup itu dan mulai membayangkan bagaimana rasanya mencari nafkah dari memotret.

Robinson, yang kala itu tinggal di kawasan New Parks, Leicester, nekat menemui ketua program studi meski belum memiliki kamera maupun koleksi foto untuk ditunjukkan. Ia memutuskan mengambil jurusan fotografi pada 1964 dan langsung jatuh cinta pada prosesnya. “Butuh satu hari bagi saya untuk menyadari bahwa inilah yang ingin saya lakukan sepanjang hidup,” kenangnya.

Ia menikmati ritual kelas: memotret, mencetak, lalu mengkritik hasil karya bersama teman-teman. Rasa percaya dirinya tumbuh karena orang-orang membicarakan hasil kerjanya di kelas. Meski begitu, saat masih menjadi mahasiswa, memotret sepak bola justru menjadi hal terakhir yang ingin ia lakukan.

Kebutuhan hidup mengubah arah itu. Dalam kondisi kehabisan uang, Robinson menerima pekerjaan mengantar koran untuk publikasi Football League Review sebelum akhirnya dipercaya menjadi fotografer di sana. Dari situ ia diundang FIFA untuk meliput Piala Dunia 1970 di Meksiko guna keperluan laporan resmi, dan kemudian menyandang status fotografer resmi federasi tersebut hingga Piala Dunia 1994.

Rahasia di Balik Foto: Jarak dari Fanatisme

Robinson percaya bahwa kurangnya “energi penggemar” dalam dirinya justru menjadi keunggulan. Menurut dia, fotografer olahraga pada umumnya bekerja berdasarkan daftar bidikan yang sudah ditentukan: gol, insiden, dan momen penting dalam pertandingan. Ia memilih keluar dari pola itu karena sadar tidak akan bersaing di wilayah tersebut.

“Ini membantu saya menghasilkan gambar yang berbeda dari fotografer sepak bola biasa,” ujarnya. “Karena tugas mereka, daftar belanja mereka, adalah hal-hal yang penting dalam pertandingan—gol dan insiden. Saya ditakdirkan memotret gambar-gambar ini karena orang lain tidak melakukannya.”

Setiap bingkai yang ia hasilkan, kata Robinson, selalu menyisakan pertanyaan bagi dirinya sendiri. Ia tidak sekadar merekam apa yang terjadi, tetapi ingin tahu mengapa sebuah peristiwa berlangsung seperti itu. Rasa penasaran inilah yang membuat fotonya terasa berbeda dari dokumentasi pertandingan pada umumnya.

Baresi, Charlton, dan Maradona dalam Bidikannya

Salah satu foto favoritnya lahir dari final Piala Dunia 1994 di Los Angeles, ketika Italia harus mengakui keunggulan Brasil lewat adu penalti. Robinson memotret kapten Franco Baresi yang berjalan menerima medali runner-up, dengan trofi Piala Dunia terlihat di sudut bingkai—begitu dekat namun tak terjangkau. Sehari sebelumnya ia sudah mencari lokasi dan menyiapkan flash untuk mengisi bayangan yang menurutnya akan sangat buruk.

Ia menunggu lama untuk momen yang tepat saat Baresi melangkah ke podium. “Seperti tali jerat untuk sebuah eksekusi,” tulisnya dalam keterangan foto. “Dia tidak menginginkan medali itu, dia hanya ingin jatuh ke dalam lubang di tanah. Dan saya hanya mengambil satu foto, itu saja.”

Foto klasik lain diambil pada Oktober 1970 dan menampilkan legenda Inggris Sir Bobby Charlton yang bersiap mengambil tendangan pojok, sementara seorang polisi mengawasi penonton. Anak-anak di barisan depan tampak memandang Charlton seperti sosok dewa. Komedian Michael Palin menulis pengantar untuk buku Robinson dan menyebutnya sebagai foto yang semacam renaisans.

Pada 1986, Robinson juga berada di lokasi saat Maradona mengangkat trofi. Berbeda dari foto Baresi, kali ini ia tidak menyiapkan apa pun karena tidak ada yang tahu pasti di mana seremoni akan digelar dan siapa yang menyerahkan trofi. Ia lantas mengarahkan kamera ke para tamu VIP yang tampak bingung, dan momen itulah yang ia abadikan. Menurutnya, Maradona terlihat sangat menahan diri, seperti sedang berpikir bahwa dirinya kini “berada di antara orang-orang besar”.

Perjalanan kariernya juga membawanya ke Madagaskar pada 1987, saat meliput Camel Trophy untuk perusahaan rokok Camel. Di sela acara off-road menggunakan Land Rover yang menempuh sekitar 1.000 mil dari utara ke selatan Madagaskar, ia menemukan warga desa bermain bola di lapangan seadanya. Hanya butuh lima menit baginya untuk mendapatkan bidikan kiper yang berdiri di antara rumput.

Pameran di New Parks Library dan Penilaian Kurator

Sebanyak 40 karya Robinson kini dipajang di New Parks Library, yang berada di jalan yang sama dengan rumah masa kecilnya. Pameran tersebut rencananya berlangsung hingga Maret. Bagi Robinson, memamerkan karya di kampung halaman memberi pesan sederhana: asal-usul seseorang tidak membatasi apa yang bisa ia capai.

“Artinya, tidak peduli dari mana kamu berasal, kamu bisa melakukannya, kan? Saya berasal dari sini, ini biasa. Saya suka itu, saya suka menjadi orang biasa,” katanya.

Hugo Worthy, yang mengkurasi pameran, menilai visi Robinson segar dan menarik karena menggunakan sepak bola sebagai cara membicarakan kondisi manusia. Ia mengakui banyak foto aksi dalam arsip Robinson, tetapi bukan itu yang paling memikatnya. Menurut Worthy, ada keseriusan mendalam dalam cara Robinson memotret.

Salah satu gambar yang paling menonjol bagi Worthy adalah foto abu jenazah yang dikebumikan di lapangan pada sebuah pertandingan non-liga. Baginya, foto itu merangkum gagasan tentang sepak bola sebagai semacam agama, serta sebagai titik temu komunitas, keluarga, dan masyarakat. “Ini foto yang sangat indah dan intim,” ujarnya.

Penghargaan dan Harapan atas Arsip Seumur Hidup

Pada 2025, Robinson menerima penghargaan pencapaian seumur hidup di bidang olahraga dalam ajang Lucie Awards, sebuah perhelatan internasional yang merayakan tokoh-tokoh paling berpengaruh di dunia fotografi kontemporer. Penghargaan itu menegaskan bahwa pendekatannya yang tidak konvensional diakui secara luas, bukan hanya oleh penggemar sepak bola.

Meski sempat pensiun, ia kembali memotret pada pertandingan Argentina melawan Cape Verde di Miami dalam rangkaian Piala Dunia 2026. Keterlibatannya di lapangan setelah puluhan tahun menunjukkan bahwa rasa ingin tahunya belum pudar.

Ke depan, Robinson berharap arsipnya dapat dipamerkan di De Montfort University, tempat kariernya bermula. Baginya, langkah itu akan membuat kisah hidupnya “berputar penuh”. Ia tetap setia pada prinsip yang dipegang sejak awal: “Saya suka gambar yang punya cerita dan gambar-gambar biasa tentang orang biasa.”

Kisah Peter Robinson menunjukkan bahwa keahlian memotret tidak selalu lahir dari kecintaan buta pada objeknya. Justru jarak yang ia jaga dari fanatisme membuat detail kecil—wajah bingung seorang juara, anak-anak yang menatap idolanya, atau kiper di tengah rumput liar—terekam dengan jujur. Dari situ, sepak bola berhenti menjadi sekadar skor dan berubah menjadi potret manusia.

Dengan pameran yang masih berlangsung hingga Maret dan arsip yang ia harap bisa kembali ke kampusnya dahulu, warisan Robinson bukan hanya tentang 13 Piala Dunia yang ia liput. Warisannya adalah cara melihat: bahwa hal-hal biasa di sekitar pertandingan bisa menyimpan cerita yang jauh lebih besar.

Exit mobile version