Drogheda United vs Trabzonspor akan tersaji dalam sebuah laga persahabatan di kawasan pesisir Laut Hitam, Turki timur laut, pada Kamis mendatang. Bagi klub kecil asal Irlandia itu, ini bukan sekadar pertandingan uji coba biasa, melainkan puncak dari persahabatan yang telah dibangun selama kurang lebih dua dekade dengan salah satu tim besar Turki yang kini diperkuat Mohamed Salah.
Pertemuan tersebut menjadi istimewa karena mempertemukan dua dunia yang tampak tak berhubungan. Trabzonspor adalah klub papan atas yang baru saja menyambut Salah dengan sambutan heroik di stadion berkapasitas 40.000 kursi, Papara Park, pada Agustus lalu. Di sisi lain, Drogheda United hanyalah tim dari Liga Irlandia yang pada akhir pekan yang sama bertandang ke Galway dan bermain imbang 0-0 di hadapan sekitar 5.000 penonton. Meski demikian, hubungan erat antara kedua klub membuat laga ini punya makna jauh lebih besar daripada sekadar hasil akhir.
Drogheda United vs Trabzonspor: Laga yang Lama Dinanti
Rencana mempertemukan kedua klub sebenarnya sudah dirancang sejak lama, tetapi selalu gagal terwujud. Pada 2013, Trabzonspor sempat datang ke Dublin untuk menjalani laga persahabatan seremonial, namun cuaca buruk menggagalkan pertandingan tersebut. Hujan deras yang turun luar biasa dalam waktu sekitar satu jam sebelum kick-off membuat lapangan tak layak dipakai.
Direktur eksekutif Drogheda, Rian Wogan, mengenang momen itu dengan detail. Ia menuturkan bahwa staf klub sudah bersiap di pintu masuk untuk memindai tiket para penonton, tetapi pertandingan akhirnya dinyatakan tidak bisa digelar. Akibatnya, Trabzonspor harus pulang ke Turki tanpa sempat memainkan laga yang sudah dinanti-nantikan itu.
Karena itulah, pertandingan Kamis nanti terasa seperti sesuatu yang sudah sangat lama ditunggu. Antusiasme pun meledak ketika Drogheda mengumumkan laga persahabatan ini di media sosial pada 2 September. Unggahan di platform X dilihat lebih dari setengah juta kali, dan para penggemar Trabzonspor bereaksi dengan sangat ramai.
Awal Hubungan Erat yang Berawal dari Forum Daring
Kisah pertemanan kedua klub ini bermula dari hal yang cukup tak terduga. Pada 2006, di sebuah forum daring penggemar Trabzonspor, beberapa suporter menyadari bahwa ada klub kecil asal Irlandia yang memakai lambang bintang dan bulan sabit — simbol yang identik dengan bendera Turki. Dari situ, mereka kemudian mengetahui bahwa warna kebesaran Drogheda juga sama, yakni merah anggur dan biru, sehingga pesan-pesan mulai saling dikirim antara kedua kubu.
Hubungan antara Irlandia dan Turki sendiri sejatinya sudah terjalin jauh lebih lama, bahkan sejak abad ke-19. Ketika Irlandia dilanda Kelaparan Besar, Kekaisaran Ottoman memberi bantuan kemanusiaan, termasuk donasi sebesar £1.000 dari sang Sultan. Pada tahun ini, kedua negara juga menandai 75 tahun hubungan diplomatik.
Kedekatan itu diuji ketika Drogheda United mengalami masa sulit. Pada 2008, klub masuk ke proses examinership — padanan dari pengelolaan kepailitan di Irlandia — dan harus menerima pengurangan 10 poin di kompetisi liga. Mendengar kabar tersebut, para pendukung Trabzonspor mengirimkan surat kepada klub berisi uang tunai untuk membantu mereka bertahan.
Dua tahun berselang, hubungan itu resmi disahkan ketika kedua klub menyatakan diri sebagai klub saudara, dan muncullah rencana untuk menggelar laga persahabatan seremonial di Dublin pada 2013. Sejak saat itu, ikatan antara keduanya tidak hanya bertahan, tetapi makin mengakar di kalangan suporter masing-masing.
Antusiasme Suporter yang Melampaui Batas Negara
Besarnya keterikatan ini terlihat dari data dan kebiasaan sehari-hari. Sekitar 30 persen pengikut media sosial Drogheda berasal dari Turki, jumlah yang bahkan lebih besar dibandingkan porsi penggemar dari Irlandia sendiri. Kaus dan bendera Trabzonspor pun kerap terlihat di pertandingan-pertandingan Drogheda.
Sejumlah penggemar Turki bahkan kadang mengunjungi klub pada hari kerja hanya untuk melihat stadionnya. Salah satu di antaranya, Cafer Bektas, tinggal beberapa mil dari Drogheda dan selalu hadir di setiap pertandingan. Ketika pertama kali pindah ke kawasan itu, kaus Trabzonspor yang ia kenakan menarik perhatian warga setempat dan bahkan membuatnya mendapat potongan harga di beberapa toko.
Para pendukung Drogheda berharap mendapat perlakuan ramah serupa ketika melakukan perjalanan sejauh 4.700 km ke Turki. Sekitar 30 hingga 35 penggemar Boynesiders — julukan bagi pendukung Drogheda — diperkirakan akan menempuh perjalanan tersebut. Sebagian suporter Trabzonspor bahkan sudah menawarkan rumah mereka sebagai tempat menginap bagi para tamu.
Peluang Mohamed Salah dan Konteks yang Lebih Luas
Satu hal yang masih menjadi tanda tanya adalah apakah para penonton akan menyaksikan Mohamed Salah langsung menghadapi Drogheda. Penyerang Mesir itu absen dari skuad negaranya saat menghadapi Sudan Selatan dalam kualifikasi Piala Afrika pada Selasa, karena laga tersebut dimainkan di lapangan berumput sintetis.
Bagi Wogan, kehadiran Salah di stadion saja sudah menambah bobot pertandingan ini. Ia menilai bahwa meski sang pemain mungkin tidak masuk skuad, melihatnya berada di stadion akan menjadi pengalaman yang luar biasa. Ia juga memuji langkah Trabzonspor yang disebutnya melakukan transfer-transfer hebat dalam beberapa jendela terakhir dan benar-benar memperluas batas kemampuan mereka, sehingga peluang menghadapi tim seperti itu terasa istimewa.
Terlepas dari ada atau tidaknya Salah, pertemuan ini tetap menjadi penanda sebuah hubungan yang spesial dan tidak biasa. Di tengah persaingan sepak bola modern yang sering kali hanya soal uang dan prestise, kisah Drogheda dan Trabzonspor menunjukkan bahwa ikatan antarpenggemar bisa tumbuh dari hal-hal sederhana seperti lambang dan warna klub.
Laga Kamis nanti pun seolah menutup penantian panjang yang sempat gagal terwujud lebih dari satu dekade lalu. Apa pun hasilnya, pertandingan di tepi Laut Hitam itu akan menjadi momen bersejarah bagi kedua klub dan para pendukungnya yang telah lama menjaga persahabatan ini.
