permainan slot

Bradley Barcola: Perjalanan ‘Belalang’ Menuju Liverpool

Bradley Barcola tengah bersiap mengarungi babak baru dalam kariernya bersama Liverpool. Klub asal Inggris itu dilaporkan telah mencapai kesepakatan senilai £123 juta untuk memboyong pemain sayap asal Prancis tersebut dari Paris St-Germain (PSG). Kepindahan ini sekaligus menjadi puncak dari perjalanan panjang yang penuh liku, dimulai dari lapangan sekolah di Vaulx-en-Velin hingga menjadi bintang dengan nilai transfer sembilan digit.

Di balik kesuksesan itu, ada kisah perjuangan yang jarang diketahui publik. Bradley Barcola sempat mengalami masa kelam ketika kariernya nyaris mandek di Olympique Lyon, bahkan hampir hijrah ke klub kecil Swiss demi mencari menit bermain. Namun, dukungan keluarga yang solid serta kerja keras tanpa henti membuat pemuda berjuluk ‘belalang’ ini mampu bangkit dan membuktikan kualitasnya di level tertinggi.

Karier Bradley Barcola Sempat Mandek di Lyon

Masih segar dalam ingatan, tidak lama berselang, karier Bradley Barcola tampak berjalan di tempat. Setelah menuai pujian berkat penampilannya yang konsisten sebagai starter di lini depan Lyon di bawah arahan Peter Bosz, pemain sayap berusia 20 tahun itu tiba-tiba kehilangan tempat. Ketika pelatih asal Belanda itu digantikan Laurent Blanc pada Oktober 2022, Barcola justru terlempar ke tim cadangan.

Menurut laporan L’Equipe, Barcola nyaris bergabung dengan klub asal Swiss, St Gallen, pada Januari 2023 demi mendapatkan lebih banyak waktu bermain. Namun, sebuah insiden tak terduga yang melibatkan rekan setimnya justru membuka pintu kembalinya ke tim utama. Karl Toko Ekambi menjadi sasaran frustrasi para suporter yang kecewa dengan performa buruk Lyon kala itu.

Insiden Toko Ekambi yang Mengubah Segalanya

Hubungan antara pemain asal Kamerun itu dan kelompok ultras Lyon semakin retak setelah ia dengan emosional menerobos lorong pemain dan menendang tempat sampah saat ditarik keluar pada kekalahan 2-1 dari Strasbourg di kandang. Insiden tersebut terekam kamera dan menjadi awal dari akhir karier Toko Ekambi di Lyon. Ia tidak pernah lagi mengenakan seragam Lyon setelah kejadian itu.

Peluang itu pun dimanfaatkan Barcola dengan sangat baik. Ia menjadi starter di sebagian besar sisa pertandingan musim tersebut dan mencetak lima gol, termasuk gol kemenangan ke gawang PSG yang kala itu sedang bersiap menjadi juara pada April 2023. Penampilan impresif itulah yang kemudian membuat PSG kepincut dan membawanya ke Paris hanya beberapa bulan berselang.

Debut Kilat di PSG dan Julukan ‘Belalang’

Lima bulan setelah gol indahnya di Parc des Princes, Barcola resmi menjadi pemain PSG. Kepindahan dengan nilai sekitar £38,5 juta terjadi dua pekan setelah Neymar hengkang ke Arab Saudi, ketika Lyon tengah terpuruk di klasemen dan tidak mampu mendatangkan pemain pengganti akibat pembatasan finansial.

Menariknya, laga perdana Barcola bersama PSG justru digelar di kandang lamanya, Lyon. Pierre-Etienne Minonzio, jurnalis sepak bola L’Equipe, menceritakan kepada BBC Sport bahwa Barcola mendapat cemoohan dari suporter Lyon karena baru saja pindah. Luis Enrique kemudian bertanya kepada pemain yang masih sangat muda itu apakah ia siap bermain, dan Barcola menjawab ya. Begitu masuk sebagai pemain pengganti, penampilannya langsung mengesankan.

Julukan ‘belalang’ melekat pada Barcola berkat kecepatan, kelincahan, dan postur tubuhnya yang ramping. Sejak itu, ia berhasil mempersembahkan tiga gelar Ligue 1 dan dua trofi Liga Champions beruntun dalam tiga musimnya di ibu kota Prancis. Dua tahun lalu ia menembus timnas Prancis dan mencetak tiga gol pada Piala Dunia musim panas ini, membawa Les Bleus melaju hingga semifinal.

Keluarga: Pilar Utama di Setiap Langkah Barcola

Keluarga selalu hadir di setiap langkah Barcola, sejak ia menjadi anak pemalu yang bermain untuk klub lokal AS Buers Villeurbanne, bergabung dengan akademi Lyon pada usia delapan tahun, hingga menjalani debut bersama Lyon sebelas tahun kemudian. Puncaknya, keluarganya menyaksikan ia menjadi juara Liga Champions dua kali beruntun bersama PSG pada final di Budapest, Mei lalu.

Bradley Jean-Manuel Essolisam Addo Barcola lahir pada 2 September 2002 dan merupakan salah satu dari enam bersaudara. Salah satu saudaranya, Malcolm, yang berusia 27 tahun, juga berkiprah di dunia sepak bola sebagai penjaga gawang Ittihad Tanger di Maroko dan tim nasional Togo. Sang ibulah yang mendorong mereka menekuni sepak bola, bahkan rutin menghadiri pertandingan dan merekam aksi kedua putranya.

“Ini langka, tetapi ibulah yang menanamkan kecintaan kami pada olahraga ini,” ujar Barcola, yang mengidolakan Cristiano Ronaldo dan Pierre-Emerick Aubameyang, dalam wawancara dengan Uefa pada 2024. Sementara itu, sang ayah, Yves, memiliki semangat besar terhadap olahraga dan etos kerja yang kuat. Ia kerap mengumpulkan anak-anaknya di ruang keluarga untuk menonton ulang rekaman pertandingan mereka bersama.

Latihan Khas Sang Ayah bersama Malcolm

Malcolm juga pernah berbagi cerita tentang masa kecilnya bersama adiknya itu. “Setiap akhir pekan, kami pergi ke stadion lokal,” katanya kepada surat kabar Le Progres. “Ayah saya meminta Bradley melakukan latihan khusus di depan gawang, dan saya sebagai penjaga gawang juga diberi latihan. Kami saling melengkapi dengan baik.”

Dari Akademi Lyon ke Panggung Eropa

Lyon dikenal sebagai salah satu akademi sepak bola terbaik di Prancis, dan reputasi itu sudah terbangun jauh sebelum Barcola lahir. Akademi ini telah melahirkan deretan pemain bintang yang kemudian bersinar di panggung Eropa. Beberapa nama besar yang pernah menimba ilmu di akademi Lyon antara lain:

Barcola sendiri menunjukkan bakatnya sejak dini. Pada usia 17 tahun, ia mencetak 11 gol dalam 17 pertandingan liga untuk tim U-19 Lyon sebelum menandatangani kontrak profesional pertamanya dua tahun kemudian, tepatnya pada 2021. Momen itu menjadi kebanggaan besar bagi seluruh keluarga Barcola.

Di tengah ketenaran dan kekayaan yang diraihnya, Barcola selalu menekankan betapa pentingnya keluarga dalam menjaga dirinya tetap membumi. Ketika ia mendapat kritik tajam karena gagal memanfaatkan peluang melawan Newcastle di Liga Champions pada musim pertamanya di PSG, ia langsung berpaling kepada keluarganya untuk mencari dukungan.

Mentalitas Baja dan Dukungan Keluarga

“Orang tua saya dan saya membicarakan segalanya,” kata Barcola dalam wawancara dengan Le Parisien. “Segera setelah ada masalah, baik di dalam maupun di luar lapangan, kami membahasnya. Saya juga punya kakak laki-laki, dan saat keadaan tidak baik-baik saja, saya perlu bertemu mereka dan mendengar nasihat mereka.”

Ia menambahkan bahwa ketika keluarganya mengatakan ia bermain buruk, itu karena memang benar adanya, dan ketika mereka memujinya, itu juga karena penampilannya memang bagus. Barcola mengaku tidak terlalu mendengarkan kritik dari luar. Keluarga adalah cermin paling jujur baginya.

Sang ayah, Yves, juga menanggapi kritik yang dialami putranya usai laga kontra Newcastle. “Kami membicarakannya dengannya, itu hal yang tidak memengaruhinya. Itulah yang dia katakan kepada kami, itu justru mendorongnya untuk berbuat lebih,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa Barcola tidak pernah diberi segalanya secara instan dalam karier mudanya, melainkan selalu harus membuktikan diri dengan kesabaran dan kualitas yang dimilikinya.

Luis Enrique pun angkat bicara mengenai karakter pemainnya itu. Ia menggambarkan Barcola sebagai pribadi yang seimbang, sangat bijak, rendah hati, pekerja keras, dan memiliki nilai kekeluargaan yang kuat. “Setelah laga Newcastle di Parc des Princes, dia dikritik habis-habisan secara tidak adil, dan itu tidak mencerminkan kenyataan,” tambah pelatih asal Spanyol tersebut. “Dia mampu mengelola masa sulit pasca-Newcastle dengan sangat tenang.”

Apa yang Akan Diberikan Bradley Barcola untuk Liverpool?

Barcola adalah pembelian kejutan yang sudah lama dinanti para penggemar Liverpool sepanjang musim panas ini. Namun, banderol selangit yang disertainya otomatis membawa tekanan besar. Ia diharapkan langsung tampil memukau sejak awal, mengingat Liverpool memecahkan rekor transfer klub untuknya.

Kabar baiknya, Barcola punya catatan apik melawan tim-tim Inggris. Ia mencetak gol dalam kemenangan 4-2 atas Manchester City di Liga Champions pada Januari 2025, lalu membobol gawang Chelsea di kedua leg babak 16 besar musim lalu. Liverpool dan pelatih anyarnya, Andoni Iraola, tentu bisa mengambil energi positif dari fakta bahwa Barcola cepat beradaptasi setelah pindah besar-besaran ke PSG.

Minonzio menuturkan bahwa PSG memboyong Barcola dengan nilai sekitar 50 juta euro, angka yang terbilang gila mengingat ia baru tampil sekitar satu musim penuh di Ligue 1. “Itu uang yang sangat besar untuk seseorang yang sebenarnya belum benar-benar membuktikan apa pun, tetapi Luis Enrique melihat sesuatu dalam dirinya,” kata Minonzio. “Luis Enrique berkata: ‘Berapa pun harganya, kami membutuhkannya karena potensinya luar biasa.'” Ia menambahkan bahwa Barcola sempat mengalami kendala ketika bek lawan mulai membaca pola dribelnya yang monoton, tetapi ia sadar dan berhasil mengembangkan variasi gerak sehingga kini memiliki kualitas jauh lebih kaya.

Minonzio percaya Liverpool adalah tempat yang tepat bagi Barcola, terutama karena hadirnya Iraola yang dikenal jago mengembangkan pemain. “Terkadang dia berlari terus, tetapi penyelesaiannya tidak selalu bagus. Dia harus berkembang, dan saya yakin dia akan melakukannya,” ujarnya sambil membandingkan situasi Barcola dengan Ousmane Dembele dua atau tiga tahun lalu. Sylvain Ripoll, pelatih tim U-21 Prancis pada 2023, juga memuji karakter pemain

Exit mobile version