Laga Bournemouth vs AC Milan di Europa League menjadi momen yang nyaris tak pernah dibayangkan para pendukung The Cherries. Kamis (20.00 BST) nanti, klub berusia 127 tahun asal Dorset itu menjamu raksasa Italia di Stadion Vitality, tepat 15 tahun setelah kekalahan 2-1 di kandang dari Bury di kasta ketiga sepak bola Inggris. Pertandingan ini bukan sekadar laga penyisihan grup biasa, melainkan puncak perjalanan panjang sebuah klub kecil menuju panggung sepak bola Eropa.
Pertemuan ini mempertemukan dua dunia yang sangat berbeda: Bournemouth, klub yang nyaris mati dan sempat menghuni dasar Liga Two, dengan AC Milan, tim yang 11 kali tampil di final Piala Eropa dan tujuh kali menjadi juara. Bagi Bournemouth, ini adalah musim debut mereka di kompetisi Eropa, dan mereka datang dengan modal dua kemenangan di laga pembuka. Duel di Vitality Stadium pun dijuluki sebagai salah satu malam paling bersejarah dalam sejarah klub.
Fakta Utama: Bournemouth vs AC Milan di Europa League
Bournemouth vs AC Milan akan mempertemukan klub yang menolak mati dengan salah satu klub paling sukses di Eropa. AC Milan yang datang ke Dorset adalah tim yang tujuh kali juara Eropa dan 11 kali mencapai final Piala Eropa, meski performa mereka belakangan ini tidak lagi sekuat dekade sebelumnya. Laga ini dijadwalkan berlangsung Kamis pukul 20.00 waktu setempat dan menjadi salah satu pertandingan paling ditunggu di matchday Europa League.
Penggemar Bournemouth, Kirk Tovey, mengaku masih sulit percaya dengan situasi ini. “Saya masih mencubit diri sendiri,” ujarnya kepada BBC Sport. “Belum lama ini kami bermain melawan Oldham Athletic dan Hartlepool United di League One. Sekarang saya akan menonton kami melawan AC Milan. Ini benar-benar gila.”
Tony Pulis, yang pernah bermain untuk Bournemouth sebelum melatih klub itu pada 1992-1994 dan masih tinggal di kawasan tersebut, menyebut pencapaian ini sebagai “tanah impian”. Menurutnya, kisah Bournemouth adalah cerita yang sulit dipercaya jika mengingat kondisi klub pada era 1980-an dan awal 1990-an. “Semoga cerita ini terus berlanjut,” tambahnya.
Dari Jurang Likuidasi ke Premier League
Pada 2011, Bournemouth berada di posisi ke-21 kasta ketiga dengan 12 poin dari 14 pertandingan setelah kalah di kandang dari Bury. Di musim yang sama, mereka juga menelan kekalahan tandang dari Bury, Rochdale, dan Oldham. Situasi itu menjadi potret betapa jauhnya klub dari panggung Eropa seperti yang mereka nikmati saat ini.
Masalah keuangan pernah membuat Bournemouth berada di ambang likuidasi pada 2008, ketika klub bertahan hidup lewat penggalangan dana dari para penggemar. Pada musim 2008-09, mereka finis di peringkat 21 Liga Two sebelum akhirnya bangkit dan meraih promosi ke Premier League pada 2015. Perjalanan naik-turun itu kini menjadi salah satu kisah kebangkitan paling populer dalam sepak bola Inggris.
Joe Partington, mantan gelandang Bournemouth yang kini menjadi komentator reguler BBC Radio Solent, mengenang masa-masa sulit itu. “Dulu kami harus berganti pakaian di satu tempat di Bournemouth, lalu berkendara ke tempat lain untuk berlatih, sebelum berkendara lagi untuk makan siang,” kenangnya. “Sekarang para penggemar berjalan melewati taman untuk menonton pertandingan Eropa.”
Tovey juga mengenang saat-saat ketika rata-rata penonton kandang Bournemouth hanya sekitar 6.000 orang. “Sebagai penggemar, Anda bisa datang 10 menit sebelum kick-off dan langsung masuk,” ujarnya. Kini situasinya berbalik total: tiket menjadi barang langka, dan banyak penggemar, termasuk keponakan Tovey, gagal mendapat tempat karena poin loyalitas mereka belum mencukupi.
Stadion Vitality merupakan stadion terkecil di Premier League dari sisi kapasitas, tetapi perluasan sedang dilakukan. Laga melawan Sturm Graz yang berakhir 3-0 di Europa League dihadiri 12.070 penonton, angka tertinggi Bournemouth pada abad ke-21. Untuk laga melawan AC Milan, lebih dari 12.000 orang dipastikan kembali memadati stadion, sementara banyak penggemar lain harus puas menonton dari televisi karena kehabisan tiket.
AC Milan: Raksasa yang Sedang Berubah
AC Milan datang ke Inggris dengan status tim peringkat keempat Serie A, mengumpulkan 15 poin dari tujuh pertandingan, tertinggal empat poin dari pemuncak klasemen dan rival bebuyutan Inter Milan. Sudah 19 tahun sejak mereka terakhir kali menjuarai Eropa dan empat tahun sejak meraih Scudetto terakhir dari total 19 gelar Serie A mereka. Tim asuhan mantan pelatih Manchester United, Ruben Amorim, itu masih dianggap sebagai salah satu klub besar dunia meski belum kembali ke level terbaiknya.
Tovey menilai AC Milan saat ini bukanlah Milan yang dikenang banyak orang. “Ini bukan AC Milan-nya Kaka, Alessandro Nesta, Paolo Maldini, Filippo Inzaghi, atau Clarence Seedorf,” katanya. “Tetapi mereka tetap juara Eropa tujuh kali dan merupakan klub sepak bola raksasa. Ketika undian keluar dan Anda melihat delapan tim yang akan kami hadapi, AC Milan adalah tim yang membuat semua orang berkata wow.”
Meski berbeda jauh dalam pengalaman Eropa, Bournemouth dan AC Milan sebenarnya cukup dekat dalam hal performa terkini. Bournemouth memenangi dua laga pembuka Europa League, sementara AC Milan masih berusaha menemukan konsistensi di Serie A. Pertemuan ini pun menjadi ujian menarik bagi kedua tim untuk membuktikan kualitas masing-masing di panggung kompetisi yang berbeda.
Modric, Ronaldo, dan Sejarah yang Terhubung
Bournemouth bukan kali pertama menjamu tim besar Eropa. Pada 2013, Cristiano Ronaldo, yang saat itu menjadi pemain termahal dunia, mencetak dua gol dalam kemenangan 6-0 Real Madrid atas Bournemouth dalam laga pramusim. Klub menyebut laga itu sebagai pertandingan eksibisi perayaan setelah promosi ke Championship.
Dalam laga tersebut, Luka Modric juga tampil dan kini diperkirakan akan kembali ke Vitality Stadium pada Kamis nanti di usia 41 tahun. Gelandang Kroasia itu telah memulai lima pertandingan untuk AC Milan musim ini. “Saya ingin dia bermain supaya kami bisa mengatakan telah melihat Modric di laga kompetitif di Dean Court,” kata penggemar Bournemouth, Chris, kepada BBC Radio 5 Live.
Bournemouth dan AC Milan juga memiliki kesamaan warna kebesaran. Ketika John Bond menjadi manajer pada awal 1970-an, ia mengubah seragam merah ceri tradisional klub menjadi merah-hitam, meniru warna AC Milan yang mendominasi Eropa pada 1960-an. Pada 1972, klub juga mengubah nama dari Bournemouth and Boscombe Athletic menjadi AFC Bournemouth agar terdengar lebih kontinental sekaligus menempatkan mereka di urutan teratas daftar alfabet klub Liga di atas Arsenal.
“Fakta bahwa Bournemouth terinspirasi oleh AC Milan menunjukkan seberapa besar klub itu dan sejarahnya,” kata gelandang Ruben Loftus-Cheek, yang bergabung dengan Milan pada 2023. “AC Milan telah menginspirasi orang-orang untuk menonton dan mencintai sepak bola. Bournemouth layak berada di Premier League, dan sekarang mereka bermain di Eropa serta mendapat kesempatan melawan AC Milan. Ini tontonan hebat bagi para penggemar.”
Hak untuk Bermain Melawan AC Milan
Bagi Tovey, kesempatan ini bukan hadiah, melainkan hasil kerja keras. “Kami telah mendapatkan hak untuk berada di Europa League melalui kerja keras dan ambisi,” tegasnya. “Kami mungkin Bournemouth kecil, tetapi kami benar-benar layak bermain melawan AC Milan.”
Partington menekankan bahwa laga Kamis nanti bukan pertandingan amal atau uji coba pramusim. “Ini Bournemouth melawan AC Milan dalam laga kompetitif Eropa,” ujarnya. “Orang-orang tercengang karena ini sekarang menjadi hal biasa.” Pulis pun memuji kemajuan klub di bawah kepemilikan miliarder Amerika Bill Foley, yang menyelesaikan akuisisi pada 2022. Menurutnya, Bournemouth kini memiliki fasilitas latihan baru yang bisa bersaing dengan klub-klub terbaik di Inggris serta akademi kelas atas untuk pemain putra dan putri.
AC Milan sebenarnya pernah mengunjungi Bournemouth pada 2016, tetapi konteksnya berbeda. Saat itu Rossoneri mengirim tim untuk bermain dalam laga testimonial bagi bek senior Warren Cummings. Laga Kamis nanti jauh lebih berarti karena berstatus pertandingan resmi Eropa, bukan sekadar pertandingan persahabatan.
Perjalanan Bournemouth dari kalah melawan Bury di kasta ketiga pada 2011 hingga menjamu AC Milan di Europa League adalah salah satu kisah paling memikat dalam sepak bola modern. Klub yang hampir mati, bertahan lewat penggalangan dana, dan sempat finis di dasar Liga Two kini berdiri sejajar dengan salah satu raksasa Eropa. Laga Bournemouth vs AC Milan nanti malam bukan hanya soal tiga poin, melainkan tentang pembuktian bahwa kerja keras, ambisi, dan dukungan komunitas bisa mengubah sebuah klub kecil menjadi pesaing di panggung Eropa. Bagi The Cherries dan para penggemarnya, ini adalah malam yang akan dikenang jauh setelah peluit akhir berbunyi.
