Gelandang timnas Spanyol Alexia Putellas kembali meraih Ballon d’Or Feminin untuk kali ketiga, menyamai rekor perolehan gelar terbanyak sekaligus memastikan trofi bergengsi itu tidak pernah lepas dari tangan pemain Spanyol selama enam tahun beruntun. Penghargaan tersebut menjadi penutup musim gemilang bagi sang pemain, yang mengantar Barcelona menjuarai Liga Champions sebagai bagian dari empat trofi pada 2025-26 sebelum akhirnya pindah ke klub Women’s Super League (WSL) London City Lionesses pada Juli.
Bagi Putellas, kemenangan ini bukan sekadar penambahan koleksi pribadi. Pemain berusia 32 tahun itu kini berdiri sejajar dengan rekan senegaranya di timnas Spanyol, Aitana Bonmati, yang juga mengoleksi tiga gelar Ballon d’Or Feminin lewat kemenangan pada 2023, 2024, dan 2025, setelah Putellas lebih dulu menang pada 2021 dan 2022. Dominasi keduanya membuat nama Spanyol nyaris tak tergoyahkan di ajang penghargaan individu paling bergengsi dalam sepak bola putri tersebut.
Jalan Putellas Menuju Ballon d’Or Feminin Ketiga
Gelar ketiga ini diraih Putellas setelah ia mengumpulkan suara terbanyak dari panel jurnalis internasional yang mewakili negara-negara dalam peringkat 50 besar FIFA. Pesaing terdekatnya adalah penyerang Barcelona, Ewa Pajor, yang harus puas di posisi kedua, sementara penyerang Manchester City, Khadija Shaw, menempati urutan ketiga. Komposisi podium itu sekaligus menegaskan bahwa penilaian tahun ini tetap berpihak pada sosok gelandang kreatif, bukan semata pemain yang paling banyak mencetak gol.
Pada kategori putra, penghargaan jatuh ke tangan kapten timnas Inggris Harry Kane. Ia menjadi pemain Inggris pertama yang meraih Ballon d’Or sejak Michael Owen pada 2001, sebuah catatan yang menambah bobot edisi penghargaan kali ini. Dengan demikian, malam tersebut menghasilkan dua pemenang dari latar belakang yang berbeda: seorang Spanyol yang sudah lama berada di puncak dan seorang Inggris yang akhirnya memecah kebuntuan panjang negaranya.
Saat menerima trofi, Putellas menyampaikan pesan yang menyentuh soal akses dan kepercayaan diri. Ia mengajak semua anak laki-laki maupun perempuan di seluruh dunia untuk berani bermain sepak bola tanpa memedulikan gender atau asal-usul mereka. Ia juga meminta mereka tidak mendengarkan siapa pun yang meremehkan kemampuan, dan menegaskan bahwa keyakinan pada diri sendiri adalah modal utama.
Statistik yang Menopang Gelar La Reina
Julukan “La Reina” atau Sang Ratu memang bukan sekadar pemanis. Sepanjang musim lalu, Putellas mencetak 21 gol dan mencatatkan 13 assist di semua kompetisi, menempatkannya di urutan ketiga untuk torehan gol dan kedua untuk assist di antara seluruh pemain di lima liga teratas Eropa. Angka itu terbilang luar biasa karena ia bukan penyerang murni, melainkan gelandang yang tugas utamanya mengatur serangan.
Di Liga Champions Putri, tujuh dari total golnya lahir saat Barcelona merebut gelar kontinental keempat dalam enam musim. Hanya Pernille Harder dengan delapan gol, Alessia Russo dengan sembilan gol, dan Ewa Pajor dengan 11 gol yang mencatatkan jumlah lebih banyak, dan ketiganya adalah penyerang sejati. Fakta ini menunjukkan bahwa kontribusi Putellas tidak bisa diukur hanya dari jumlah gol yang ia buat sendiri.
Perannya dalam membangun serangan bahkan lebih menonjol. Di Liga F, kompetisi yang direbut Barcelona untuk musim ketujuh berturut-turut, ia mengakhiri musim di posisi keenam bersama untuk assists dengan tujuh umpan matang, serta keempat untuk peluang yang diciptakan dari permainan terbuka dengan 40 kesempatan. Di lima liga teratas Eropa, hanya Claudia Pina dengan 199, Vicky Lopez dengan 183, dan Georgia Stanway dengan 168 yang mencatat keterlibatan rangkaian serangan berujung tembakan dari permainan terbuka lebih banyak daripada Putellas dengan 151.
Rekor pribadinya di seluruh kompetisi juga sulit ditandingi. Ia menciptakan 89 peluang, 19 di antaranya tergolong peluang besar, dan menuntaskan 965 umpan yang berakhir di sepertiga akhir lapangan, jumlah tertinggi di antara semua pemain di Liga F, Liga Champions, Copa de la Reina, dan Supercopa de Espana. Di Liga Champions, hanya Klara Buhl dari Bayern Munich yang mampu menyamai jumlah peluang ciptaannya musim lalu dengan 36, sekaligus menjadi torehan terbanyak seorang pemain dalam satu edisi kompetisi sejak Caroline Graham Hansen mencatat 38 pada 2021-22.
Dari Lapangan Jalanan Mollet del Valles ke La Masia
Putellas lahir dan tumbuh besar di Mollet del Valles, sebuah kota di Katalonia yang berjarak sekitar 12 mil di timur laut Barcelona. Ia mulai bermain sepak bola di jalanan, lalu perlahan jatuh cinta pada Barcelona dan rutin datang ke Camp Nou untuk menonton pertandingan. Karena laga selalu disiarkan televisi di rumahnya, mantan bintang Spanyol dan Barcelona Andres Iniesta serta duet Brasil Rivaldo dan Ronaldinho cepat menjadi idolanya.
Perjalanan formalnya dimulai setelah ia mengikuti kamp sepak bola musim panas yang digagas Xavi dan sempat memperkuat klub lokal CE Sabadell. Putellas kemudian menghabiskan setahun di La Masia, akademi muda terkenal milik Barcelona, sebelum tim putrinya bubar dan membawanya ke Espanyol lalu Levante. Ia baru kembali ke Barcelona pada 2012, titik awal sebuah karier panjang bersama klub masa kecilnya.
Selama 14 tahun berseragam Barcelona, Putellas mengoleksi 38 trofi, termasuk 10 gelar liga dan empat trofi Eropa. Capaian itu menjadikannya salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah klub, bukan hanya karena jumlah gelar, tetapi juga karena cara ia menghubungkan generasi penggemar dengan identitas permainan Barcelona.
Cedera ACL dan Kebangkitan Panjang Putellas
Setelah meraih Ballon d’Or pertamanya pada 2021, salah satu momen terberat dalam karier Putellas datang ketika ia mengalami cedera ligamentum cruciatum anterior (ACL) menjelang Euro 2022. Cedera itu membuatnya absen dari turnamen dan sempat mengancam kelanjutan kariernya di level tertinggi. Meski ia tetap mempertahankan Ballon d’Or pada tahun yang sama, dibutuhkan waktu cukup lama sebelum ia benar-benar kembali ke performa terbaiknya.
Peran kecilnya dalam kesuksesan Spanyol menjuarai Piala Dunia 2023 tentu terasa menyakitkan bagi pemain selevel dirinya. Namun proses pemulihan itu perlahan membuahkan hasil: ia mencetak gol di final Liga Champions 2024, lalu tampil semakin matang pada musim berikutnya. Pada 2025-26, ia memikul sebagian besar beban kreatif Barcelona saat Bonmati absen lima bulan karena cedera, dan menutup musim sebagai peraih empat trofi.
Sebagai pelengkap, Putellas mencetak dua gol dalam kemenangan 4-0 atas Inggris pada Juni, hasil yang memastikan tempat Spanyol di Piala Dunia 2027 dengan mengorbankan peluang Inggris. Penampilan itu menjadi pengingat bahwa meski usianya tak lagi muda untuk ukuran pesepak bola putri, instingnya di momen-momen penting belum luntur.
Arti Gelar Ini bagi Barcelona dan London City Lionesses
Keputusan Putellas meninggalkan Barcelona diambil setelah kontraknya berakhir dan keinginannya mencoba tantangan baru semakin kuat. Ia dan para penggemarnya sama-sama berat melepas ikatan 14 tahun tersebut, karena kepergiannya bukan sekadar transfer biasa, melainkan berakhirnya satu babak identitas klub. Barcelona pun kehilangan bukan hanya gelandang kreatif, tetapi juga kapten yang menjadi simbol era keemasan tim.
Ia sempat menerima beberapa tawaran dari Inggris, Meksiko, dan Amerika Serikat sebelum akhirnya memilih proyek ambisius milik miliarder Amerika, Michelle Kang, di London City Lionesses pada Juli. Langkah ini menempatkan sang peraih Ballon d’Or di klub yang belum mapan secara historis, sehingga kepindahannya dianggap sebagai pernyataan bahwa kualitas proyek lebih penting daripada nama besar klub.
Dalam sebuah wawancara dengan podcast Women’s Football Weekly milik BBC pada Agustus, Putellas menjelaskan alasannya. Ia mengaku selalu menantikan hal-hal yang lebih baik dan butuh terus bergerak, baik sebagai pribadi maupun sebagai pemain. Konsistensinya di lapangan pun terjaga: bersama klub barunya, ia sudah mencetak tiga gol dan satu assist dalam tujuh pertandingan WSL.
Bagi London City Lionesses, kehadiran pemain yang baru saja dinobatkan sebagai yang terbaik dunia tentu menaikkan profil klub secara signifikan, baik di mata penggemar maupun sponsor. Bagi WSL, ini menjadi penanda bahwa liga tersebut kian menarik minat pemain kelas atas, meski efek jangka panjangnya masih perlu dibuktikan lewat performa dan hasil tim.
Dominasi Spanyol dan Peta Kekuatan Sepak Bola Putri
Enam Ballon d’Or Feminin terakhir selalu jatuh ke tangan pemain Spanyol, sebuah catatan yang menegaskan betapa dalam akar keberhasilan sepak bola putri negara itu. Sepanjang sejarah penghargaan ini, hanya Ada Hegerberg dari Norwegia pada 2018 dan Megan Rapinoe dari Amerika Serikat pada 2019 yang mampu memutus dominasi tersebut. Artinya, sejak 2020, tidak ada pemain di luar Spanyol yang berhasil naik ke podium tertinggi.
Duopoli Putellas dan Bonmati sebenarnya mencerminkan pola yang lebih luas: kekuatan Barcelona di level klub berbanding lurus dengan pengakuan individu bagi para pemainnya. Selama Barcelona mendominasi Liga F dan kompetisi Eropa, panel pemilih cenderung melihat prestasi kolektif sebagai dasar penilaian individu. Kondisi ini sekaligus menjadi tantangan bagi pemain dari liga lain untuk menembus lapisan teratas, karena gelar domestik dan Eropa menjadi faktor pembeda yang sulit ditandingi.
Ke depan, kepindahan Putellas ke WSL akan menjadi ujian menarik: apakah penampilan gemilang di luar Barcelona tetap mampu meyakinkan panel pemilih, atau justru memperlihatkan bahwa struktur kompetisi memainkan peran besar dalam menentukan pemenang. Dengan Piala Dunia 2027 sudah di depan mata dan Spanyol memastikan tiket, panggung besar berikutnya sudah menanti untuk membuktikan siapa yang benar-benar layak disebut yang terbaik.
Penutup
Gelar ketiga ini merangkum hampir semua hal yang membuat karier Putellas istimewa: konsistensi angka, peran sebagai kapten yang mengantar Barcelona meraih empat trofi, dan kemampuan bangkit dari cedera yang nyaris merenggut masa depannya. Ia kini berbagi rekor tiga gelar bersama Bonmati, sementara dominasi Spanyol di ajang ini tak terbantahkan selama enam tahun terakhir.
Yang membuat kisah ini lebih menarik adalah babak barunya bersama London City Lionesses. Putellas tidak memilih jalan yang paling mudah, dan justru dari situ publik bisa menilai apakah status legenda yang ia bangun di Barcelona mampu ia bawa ke lingkungan yang sama sekali berbeda.
